"Tetaplah bersinar apapun yang terjadi, karena banyak sekali orang yang bahagia karena sinarmu...!!"

Senin, 23 April 2012

Ukhuwah Islamiyyah

Bismillahirrohmanirrohim...
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh..

Ukhuwwah Islamiyyah adalah ungkapan tentang persaudaraan yang dibangun di atas keimanan para pemeluk agama Islam, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu (pada masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Alloh, orang-orang yang bersaudara.” ( Qs. Ali ‘Imron : 103 )

Al-Hafizh Ibnu Katsir rohimahulloh berkata : “ Konteks ayat ini berkenaan dengan perkara yang terjadi antara Suku Aus dan Suku Khozroj, yang mana telah terjadi banyak peperangan, permusuhan yang sengit, kedengkian dan dendam di antara mereka pada masa jahiliyyah, kemudian mereka berubah menjadi bersaudara yang saling mencintai karena kemuliaan Alloh, saling menyambung hubungan baik karena Alloh, dan saling tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada para Shahabat Anshor rodhiyallohu ‘anhum :
“Wahai kaum Anshor, bukankah aku mendapati kamu dalam keadaan sesat kemudian Alloh memberi petunjuk kepadamu melalui aku ?! dan kamu dahulu dalam keadaan bercerai-berai kemudian Alloh persatukan kamu melalui aku ?! dan kamu dulu miskin kemudian Alloh menjadikan kamu di dalam kecukupan melalui aku ?!” ( HR. Al-Bukhori )

Makna Ukhuwwah Islamiyyah ini diperkuat oleh Hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam :
“Janganlah kamu saling membenci, jangan saling mendengki, jangan pula saling bermusuhan, hendaklah kamu menjadi hamba-hamba Alloh yang bersaudara !” ( HR. Muslim )

Al-Imam An-Nawawi rohimahulloh berkata : “ [ hendaklah kamu menjadi hamba-hamba Alloh yang bersaudara ] yaitu kamu berhubungan dan berinteraksi sebagaimana hubungan antar saudara, saling berinteraksi dengan kecintaan, kelembutan, kasih sayang, ramah, saling bantu-membantu di dalam kebaikan dan lain-lain, disertai dengan hati yang bersih dan menasihati dalam setiap keadaan.”

Sehingga Ukhuwwah Islamiyyah mesti dibangun di atas dasar keimanan yang benar kepada Alloh ta’ala, karena ikatan persaudaraan yang tidak dibangun di atas landasan keimanan hanya akan berbuah dengan kesia-sian, sebagaimana firman Alloh ta’ala dalam ayat yang lain :
“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Alloh (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’min, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Alloh telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( Qs. Al-Anfal : 62 – 63 )

PENTINGNYA UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Ukhuwwah Islamiyyah adalah sesuatu yang sangat bernilai bagi umat Islam, karena dengan semakin eratnya tali ukhuwwah antar sesama umat muslim akan menjadikan kaum muslimin semakin kuat dan disegani, sebagaimana sabda firman Alloh ta’ala :

“Dan ta’atlah kepada Alloh dan Rosul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah ! Sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang sabar.” ( Qs. Al-Anfal : 46 )

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sesungguhnya orang mu’min bagi orang mu’min yang lainnya bagaikan sebuah bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lainnya.” (HR. Al-Bukhori, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ahmad)

Namun sebaliknya, bila tali ukhuwwah ini terlepas atau bergeser dari landasan keimanan yang benar menuju landasan yang lainnya yang bersifat duniawi semata, maka yang demikian akan menjadikan umat Islam lemah dan tidak ada nilainya di mata musuh-musuhnya, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
”Hampir waktunya umat-umat ( di dunia ) mengerumuni kamu sebagaimana orang-orang yang makan mengerumini piring tempat makanannya.” Ada penanya yang bertanya : ”Apakah yang demikian karena jumlah kami sedikit pada saat itu ?” Rosululloh menjawab : ”Bahkan jumlah kamu pada saat itu sangat banyak, tetapi kamu ( laksana ) buih sebagaimana buih yang terbawa oleh air banjir, Alloh mencabut rasa takut dari dada musuh-musuhmu terhadapmu, kemudian mencampakkan wahn (kelemahan) ke dalam hatimu.” Ada penanya bertanya : ”Wahai Rosululloh, apa yang dimaksud dengan wahn ( kelemahan ) ?” Rosululloh menjawab : ”Cinta dunia dan takut mati.” ( HSR. Abu Dawud dan Ahmad )

WUJUD NYATA UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Ukhuwwah Islamiyyah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dengan saling menghormati dan saling menyayangi, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
”Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lainnya, sehingga tidaklah ia menzhaliminya, tidak menterlantarkannya dan tidak pula merendahkannya. Taqwa itu di sini – beliau memberi isyarat ke dadanya tiga kali -. Cukuplah seseorang dianggap telah berbuat kejelekan bila dia merendahkan saudara muslimnya. Setiap muslim atas muslim yang lainnya haram diganggu darahnya, hartanya dan kehormatannya.” ( HR. Muslim )

Sehingga seorang muslim tidak boleh menyakiti hati saudaranya sesama muslim, baik dengan lisannya maupun dengan tangannya. Dalam hadits yang lain Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Orang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisannya dan tangannya.” ( HR. Muslim )

Namun demikian bukan berarti membiarkan saudaranya sesama muslim terjebak di dalam dosa dan kesalahan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
“Tolonglah saudaramu baik dia dalam keadaan berbuat zhalim atau dalam keadaan dizhalimi !” Para Shahabat bertanya : “Wahai Rosululloh, yang demikian adalah kami menolongnya dalam keadaan dia dizhalimi, lantas bagaimana caranya kami menolongnya ketika dia berbuat zhalim ?” Rosululloh menjawab : “Tahan tangannya (dari berbuat zhalim).” ( HR. Al-Bukhori )

Sehingga seorang muslim semestinya menegur dan menasihati saudaranya sesama muslim dengan nasihat yang lembut tanpa menyakiti hatinya bagaikan cermin yang memberitahu kepada siapa pun yang bercermin kepadanya akan kekurangannya tanpa membuatnya sakit hati, namun mampu menumbuhkan kesadaran untuk memperbaiki diri dari segala kekurangan yang ada pada dirinya. Oleh karena itu Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Seorang mu’min adalah cermin bagi mu’min yang lainya. Dan seorang mu’min adalah saudara bagi mu’min yang lainnya, dia menahan dari membangkrutkan usahanya dan senantiasa menjaganya dari belakang.” ( HR. Abu Dawud )

Bahkan bila dia membiarkan kezhaliman itu tetap berjalan, niscaya adzab Alloh ta’ala akan ditimpakan kepada mereka semua, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya manusia bila mereka melihat orang yang berbuat zhalim namun tidak mau menahan tangannya ( agar tidak berbuat zhalim ), maka hampir dekat waktunya Alloh akan meratakan siksaan terhadap mereka.” ( HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ahmad )

Demikian pula ketika terjadi pertikaian di antara sesama saudara muslim, hendaklah segera didamaikan sebagaimana sabda firman Alloh ta’ala :
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Alloh, supaya kamu mendapat rahmat.” ( Qs. Al-Hujurot : 10 )

UPAYA MEMPERKUAT UKHUWWAH ISLAMIYYAH
Di antara upaya yang syar’i dalam mempererat ukhuwwah Islamiyyah adalah manyadarkan kaum muslimin akan pentingnya ‘aqidah dan keimanan yang benar sebagai landasan yang kokoh bagi bagunan Ukhuwwah Islamiyyah. Oleh karena itu ayat seputar perintah menjalin ukhuwwah diawali dengan lafazh  “dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh,” yakni perintah untuk memperbaiki keimanan kita kepada Alloh ta’ala dengan cara berpegang-teguh dengan tali agama Alloh, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para Shahabat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :
“Sesungguhnya aku tinggalkan di tengah-tengah kamu Kitabulloh. Dia adalah tali ( agama ) Alloh, yang siapa saja may mengikutinya maka ia berada di atas petunjuk, namun barangsiapa yang meninggalkannya niscaya dia berada di atas kesesatan.” ( HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Abi Syaibah )
Dalam kaitannya dengan hadits di atas, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an :
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Alloh dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama- lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” ( Qs. At-Taubah : 100 )

Dengan demikian, keimanan yang paling baik adalah keimanannya para Shahabat yang langsung dibimbing oleh Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam. Sehingga wajib bagi setiap muslim yang ingin memperbaiki keimanannya kepada Alloh untuk mengikuti contoh keimanan para Shahabat yang terbukti berhasil menyatukan langkah dalam sinergi yang harmonis untuk mengantarkan awal umat ini kepada kejayaan yang tidak pernah terbayangkan oleh dunia pada saat itu.

Oleh sebab itu menyatukan ‘aqidah dan keimanan kaum muslimin di atas Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para Shahabat akan melahirkan jalinan Ukhuwwah Islamiyyah yang kokoh yang akan dapat mengantarkan umat ini kepada kejayaannya kembali.

^_^.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar