Al kisah, seorang nenek tinggal beserta dua orang cucunya di sebuah
gubuk kecil di kaki bukit. Nenek itu sudah cukup renta, dan sering
sakit-sakitan. Setahun sudah sang nenek sakit dan kondisinya pun semakin
lemah. Mengetahui kondisinya yang menjelang ajal, akhirnya ia memanggil
kedua cucunya untuk menyampaikan pesan-pesan terakhirnya.
Kedua
cucu kakak beradik itu duduk di samping neneknya sambil memijiti
kakinya, kemudian berkata kepada cucunya, “Cucuku, rasanya ajalku
semakin dekat dan tidak akan ada lagi yang akan menjaga kalian. Untuk
itu aku ingin memberikan sesuatu agar kalian tidak kekurangan setelah
aku tinggalkan.” Kakak beradik itu tertegun setelah mendengar ucapan
neneknya, dan berkata “Nenek jangan berkata begitu”.
Dengan lirih,
sang nenek kembali berkata, ”Aku ingin kalian menuju ke suatu daerah,
untuk itu aku akan memberi kalian sebuah peta perjalanan. Tapi setahuku,
daerah yang dimaksud itu sangat jauh dan butuh waktu tempuh
bertahun-tahun. Mungkin kalian akan sampai disana ketika usia kalian
menjelang senja. Untuk biaya ke sana nenek mungkin tidak punya uang
banyak. Tapi untuk perjalanan pertama akan nenek berikan emas simpanan
nenek. Emas itu hanya dapat digunakan sampai ke kota pertama. Setelah
itu kalian cari biaya sendiri,” jelas sang nenek.
“kenapa Kami Harus Kesana Nek?”, Kata cucu pertama. "Bukankan di kota terdekat kami bisa hidup dan tinggal di sana?" lanjutnya.
Neneknya menjawab, "Disana kalian akan mendapatkan sesuatu yang berharga."
“Apa itu nek?” tanya cucu ke dua.
“Kalian
akan tahu sendiri ketika kalian sampai di sana". Akhirnya kata itu
adalah kata terakhir yang tercucap dari bibir sang nenek. Dan sang nenek
pun meninggal dunia.
Sehari setelah berkabung. Mereka mulai
memikirkan wasiat terakhir neneknya. “Bagaimana dik, apakah kita
berangkat sekarang menuju tempat yang dikatakan nenek?” ujar cucu
pertama yang lebih tua beberapa tahun dari adiknya. “Sebaiknya kita
berangkat segera kak” jawab adiknya.
Setelah sebulan perjalanan
yang melelahkan kedua saudara itu pun sampai di sebuah desa. Di sekitar
desa itu dipenuhi oleh lahan pertanian yang luas. Masyarakat disana
hidup bertani. Saat mereka datang tampak sebagian besar penduduknya
sedang memanen hasil pertaniannya. Melihat itu, sang kakak pun berkata,
“Dik, makmur sekali negeri ini.“ Adiknya menimpali, “Di tempat kita
tidak pernah kita temui hasil panen yang sebagus ini”.
Kedua
saudara itu tampak terkagum-kagum dengan pandangan di depan matanya. “Oh
ya... bukankah uang kita telah habis untuk sebulan perjalanan?” tanya
sang kakak. “Bagaimana kalau kita mengumpulkan uang dulu untuk bekal
perjalanan berikutnya?” tambahnya lagi. Adiknya setuju. Akhirnya mereka
berdua bekerja pada sebuah keluarga yang memiliki lahan yang luas.
Disana mereka diajarkan bercocok tanam sehingga mereka bisa menjadi
pekerja di kebun itu.
Tak terasa, enam bulan sudah mereka disana.
Tanaman yang mereka tanam sudah menampakkan hasil. Sepekan setelah itu
mereka akan menuai panen. “Tampaknya hasil panen ini akan cukup untuk
perjalanan berikutnya,” ujar sang kakak.
Usai panen, akhirnya mereka meneruskan perjalanan menuju daerah berikutnya.
Daerah
kedua yang mereka temui adalah sebuah padang rumput yang luas. Mereka
kembali heran, bagaimana masyarakat disana hidup? Tidak sedikitpun
terlihat daerah sesubur tempat yang mereka kunjungi pertama kali. Namun,
di balik bukit mereka menemui segerombolan domba yang jumlahnya
ratusan. Beberapa saat setelah itu mereka sadar bahwa mata pencaharian
masyarakat disana adalah beternak.
"Kak, baru kali ini aku menemui
peternakan domba yang sebesar ini” ujar sang adik kagum. Kakaknya pun
meng-iyakan. “Kalau begitu, seperti sebelumnya, kita harus mengumpulkan
bekal dulu untuk perjalanan berikutnya. Bagaimana kalau kita coba
bekerja pada tuan pemilik peternakan ini?” seru sang kakak.
Mereka mulai bekerja sambil belajar bagaimana merawat ternak yang baik.
Genap
setahun, mereka kembali memikirkan perjalanan mereka. “Sudah saatnya
kita berangkat dik”, ujar sang kakak tetap bersemangat. “Saya sepertinya
tinggal di sini saja kak” jawab sang adik ragu. Sang kakak pun kaget
mendengar ucapan adiknya. “Apa kamu tidak ingin menunaikan wasiat
nenek?” tanya sang kakak menahan emosi. “Saya pikir nenek hanya
menginginkan kebahagiaan untuk kita dan saya sudah bahagia disini,
sebentar lagi saya akan memperoleh hasil yang cukup besar dan itu bisa
saya kembangkan disini,” jawab sang adik.
Sang kakak pun akhirnya mengalah.
Pemuda
itu berangkat sendiri ke daerah berikutnya. Setelah beberapa pekan
perjalanannya, dia pun sampai di sebuah pantai. Dimana masyarakatnya
hidup sebagai nelayan. Dan seperti biasa, ia tinggal disana beberapa
waktu untuk menyiapkan bekal berjalanannya. Begitu seterusnya. Separuh
dari umurnya sudah melewati berbagai daerah dengan suasana dan kehidupan
yang berbeda.
Suatu saat, sang lelaki itu sampai pada suatu
daerah yang unik. Dalam setiap perjalanannya baru kali ini dia menemui
negeri yang memiliki alam yang indah dengan kehidupan masyarakatnya
hampir semuanya makmur. Disana dia menemui daerah yang memiliki semua
ciri yang ada pada setiap perjalanannya. Masyarakat disana hidup dengan
berbagai corak yang berbeda, ada yang berdagang, bertani, nelayan, dan
di pusat kota terdapat bangunan-bangunan indah dan megah. Sungguh sebuah
negeri yang sempurna. Mendadak sang pemuda memperhatikan dirinya di
sebuah cermin. Dia kaget, melihat sosok yang ada di cermin tersebut.
Tampak kulit wajah yang mulai keriput dan rambut yang hampir separuhnya
memutih. Dia teringat akan perkataan neneknya. “perjalanan itu akan
sampai pada usia kamu menjelang senja”.
Sang cucu akhirnya
merenung, mungkinkah ini daerah akhir dari perjalanannya? Tapi apa yang
akan aku dapatkan di sini? Untuk meyakinkan dirinya dia mencoba melihat
peta pemberian neneknya. Benar, sepertinya inilah daerah terakhir yang
aku tuju. Tapi apa yang aku dapatkan di sini?
Beberapa pekan setelah itu.
Ada
pengumuman bahwa Sang Raja mencari orang yang memiliki keterampilan
yang banyak dan ilmu yang luas untuk dijadikan penasehatnya.
Berduyun-duyun masyarakat disana mulai mendaftar dan masing-masing harus
mengikuti seleksi dari kerajaan. Setelah melalui tahap seleksi yang
panjang, akhirnya diumumkan bahwa yang berhak menjadi penasehat Raja
adalah seorang pemuda yang bernama Karim.
Karim. Dialah lelaki yang menghabiskan umurnya dengan melakukan perjalanan panjang tadi.
***
Sobat,
perjalanan mencari ilmu adalah sebuah perjalanan panjang usia kita.
Rasulullah pernah mengatakan, "Tuntutlah ilmu dari semenjak lahir hingga
ke liang lahat". Betapa Rasulullah memuliakan ilmu dengan menyuruh kita
belajar hingga ajal menjelang.
Kita juga pernah mendenger
anjuran, “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina”. Betapa pentingnya ilmu
hingga jarak yang jauh tidak menjadi hambatan untuk mempelajarinya.
Ali
Bin Abu thalib mengatakan bahwa ilmu itu lebih baik dari pada harta,
karena ilmu akan menjaga kamu sedangkan kamu harus menjaga harta. Ilmu
itu akan bertambah jika diberikan sementara harta akan berkurang jika
diberikan. Ulama itu tetap hidup meskipun jasadnya telah tiada karena
pemikirannya masih tetap ada.
Rasullullah bersabda “Barang siapa
yang menuntut ilmu bukan karena Allah maka ia tidak akan keluar dari
dunia sehingga ilmu itu datang (memaksa) agar menuntut ilmunya itu
karena Allah. Barang siapa yang menuntut ilmu karena Allah maka ia
seperti orang yang berpuasa pada siang dan bangun untuk beribadah pada
malam hari. Dan sesungguhnya satu bab ilmu yang dipelajari oleh
seseorang itu lebih baik daripada ia mempunyai emas sebesar bukit Abu
Qubais lalu ia menginfakkan pada jalan Allah Ta’ala”.
Amal adalah
pasangan Ilmu. Tanpa amal, ilmu akan mati. Tanpa amal ilmu tiada guna.
Tanpa amal ilmu akan pergi meninggalkan kita. Maka amalkanlah ilmu.
Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Ilmu itu pada mulanya adalah diam, kemudian
mendengarkan, lalu menghafalkan (mengingat), lantas mengamalkannya, dan
terakhir menyiarkannya”.
Saya teringat sebuah kata-kata, “tidak
ada lift untuk menuntut ilmu, kita harus menaikinya melewati setiap anak
tangga”. Dan Thomas Alfa Edison pun berkata, "Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar