"Tetaplah bersinar apapun yang terjadi, karena banyak sekali orang yang bahagia karena sinarmu...!!"

Jumat, 20 April 2012

Lahir Batin Menyayangimu

Mentari bersinar cerah, embun membasahi dedaunan, aroma sejuk udara membawa kedamaian dan kenyamanan di pagi itu. Suasana bahagiapun tak pelak melingkupi relung hati seorang pemuda yang tengah bersiap mengenakan satu set Kemeja putih dan Jas Hitam lengkap dengan peci di kepala.
Hari itu adalah hari paling membahagiakan dalam hidup Umar, hari itu ia akan melaksanakan akad suci pernikahan dengan wanita pujaan hatinya, wanita yang sejak SMP selalu hadir dalam mimpinya, wanita yang mampu mempesonanya sejak pertemuan pertama di depan rumahnya. Sebuah kenangan indah yang membuatnya tersenyum-senyum sendiri di depan cermin di kamarnya.
Suasana berbeda terjadi dengan sang pengantin wanita. Tata yang sangat cantik dan anggun berbalut baju pengantin berwarna putih tertunduk dengan air mata yang terus bercucuran dari matanya. Ia merenungi apa yang telah diucapkannya pada malam saat Umar datang melamar kepada Ayahnya. Ia sangat menyesali apa yang telah diucapkannya pada malam itu. Kata yang seharusnya tak terucap dari mulutnya. Kata yang seharusnya kebalikan dari yang diucapkannya. Iya sangat menyesalinya karena sesungguhnya ia masih mencintai cinta pertamanya, dan seharusnya kata tersebut terucap saat cinta pertamanya tersebut yang datang melamar.
Namun, apalah daya kini semuanya telah terjadi. Ibunya yang juga terlihat anggun dan penuh rasa bahagia menghampirinya di kamar untuk mengajak keluar dan berangkat menuju tempat acara pernikahan. Melihat air mata yang jatuh dari mata anaknya, sang ibu bertanya, “Mengapa kau menangis, nak?” sang anak yang tentunya tak ingin ibunya tau tentang perasaannya menjawab, “Tidak apa-apa bu, aku hanya terharu saja.”
Tak ada yang bisa membohongi hati seorang ibu, meskipun putrinya menjawab hanya terharu, ibunya tentu tau apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya meski anaknya berbohong padanya.
“Sudahlah nak, ibu tau apa yang kau rasakan, hapuslah air matamu, yakinlah dia adalah yang terbaik untukmu.”
“Amiin, semoga saja bu.” Tata menjawab sembari memeluk ibunya.
Setelah berpelukan, Tata dan Ibunya berjalan keluar untuk menghampiri ayah dan juga rombongan sanak keluarganya yang akan turut serta menghadiri pernikahannya.
Sesampai ditempat acara yaitu kediaman dari Umar, rombongan Pengantin Wanita itu disambut dengan kebahagiaan dan kehangatan oleh orang tua dan sanak keluarga dari Umar serta aparat Pemerintahan, Penghulu dan Petugas Pencatatan, disana juga turut hadir kedua Nenek Umar yang sangat disayanginya yang telah menunggu di dalam ruangan tempat Akad akan dilaksanakan. Acara akad pun dimulai dengan Pak Hendri yang merupakan Ayah kandung dari Tata sebagai Wali langsung dan Kepala Desa serta Guru Mengaji Umar sebagai saksi. Acara pun dimulai dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan Tilawah Al-Qur’an yang langsung di lantunkan sendiri oleh Umar. Lalu acara Ijab Kabul pun dimulai.
“Hai Umar Bin Hasan, kau ku nikahkan dengan Putri kandungku Tata Binti Hendri dengan maskawin Uang senilai Sembilan Belas Juta Tujuh Ratus Enam Puluh Sembilan Ribu Tiga Ratus Sembilan Puluh Satu Rupiah dan Kitab Suci Al-Qur’an di bayar Tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Tata Binti Hendri dengan maskawin tersebut di bayar Tunai.” Dengan yakin Umar menjawab Ijab Kabul tersebut.
“Bagaimana saksi sah?”
“Sah.” Secara serempak kedua saksi menyatakan sah.
Lalu disusul dengan do’a pernikahan yang dipanjatkan oleh Penghulu. Dan tanda tangan berkas-berkas yang diperlukan oleh petugas pencatatan pernikahan.
Suasana haru semerbak menyeruak didalam ruangan tersebut, terutama Ibu dari Umar yang tak henti meneteskan air mata dan mengucap syukurnya kepada Allah karena telah mempersatukan putra satu-satunya dengan wanita yang memang ia dambakan untuk menjadi menantunya.
Acara pun dilanjutkan dengan Nasihat Pernikahan yang disampaikan oleh Guru Mengaji dari Umar. Lalu disusul dengan acara sungkeman yang semakin menambah suasana haru didalam ruangan tersebut.
Serangkaian Acara Akad dan Resepsi Pernikahan pun telah usai dilaksanakan. Kedua mempelaipun dipersilahkan untuk beristirahat. Dan dengan penuh rasa sayang Umar menuntun Istrinya itu turun dari pelaminan dan menuju ke kamar pengantin mereka. Sampai di kamar pengantin mereka, Umar melihat titik air mata membasahai pipi dari istrinya, lalu ia pun menghapus air mata di pipi istrinya itu dengan tangannya, dan bertanya ada apa? Lalu Tata pun menjawab bahwa ia belum bisa menjalankan tugasnya kepada suaminya. Dengan penuh kasih sayang sembari menghapus air mata istrinya, Umar pun berkata kepada istrinya itu “Tidak apa-apa sayang, Aku akan sabar menunggu hingga kau siap, tidak perlu menangis, aku tak kuasa melihat tangisanmu sayang.” Lalu Umar pun memeluk istrinya. Tata yang merasakan kedamaian dalam pelukan Umar, dalam hati meminta maaf kepada suaminya bahwa sebenarnya iya bukannya lelah tetapi ia tidak mau melakukan itu dengan Umar yang tidak ia cintai sedikitpun.
Tiga hari kemudian Umar dan Tata bersiap untuk berangkat ke Kota Palembang untuk kembali beraktivitas seperti biasa yaitu bekerja dan melanjutkan studynya. Rutinitas seperti saat sebelum menikahpun masih tetap dijalani oleh Umar dan Tata. Umar merupakan salah satu pemain dari Klub Sepak Bola Sriwijaya FC, dan juga merangkap sebagai, Motivator, Dosen di Universitas Sriwijaya dan juga seorang Guru Mengaji. Sementara Tata merupakan seorang Guru di salah satu Sekolah Menengah Atas Negeri di Kota Palembang.
Sudah hampir setahun pernikahan mereka, Umar merindukan tangisan seorang anak didalam rumah mereka, namun hal itu tentunya sangat tidak mungkin karena sang istri terus menolak dengan alasan belum siap dengan segala bumbu-bumbunya yang membuat Umar hanya dapat Bersabar dan Menunggu hingga istrinya siap. Sembari menunggu kesiapan istrinya, Umar sering berkunjung ke Panti Asuhan yang ada di Kota Palembang dan bermain dengan anak-anak yatim piatu yang ada disana.
Hal itu tentunya memancing pertanyaan di benak Umar, mengapa istrinya selalu menolak dan menyatakan belum siap? Apakah mungkin istrinya tidak bahagia bersamanya? Apakah…? Apakah…? Apakah…?
Lalu Umar memberanikan diri untuk bertanya kepada istrinya. Lalu dijawab oleh istrinya dengan jawaban yang sama. Hingga suatu hari Umar menanyakan kembali pertanyaan yang sama, karena bosan dengan pertanyaan tersebut, Tata marah dan membentak suaminya dengan nada tinggi. Umar yang kaget dengan jawaban istrinya tersebut hanya mampu tertunduk dan meminta maaf atas pertanyaan-pertanyaannya.
Saat menjelang Lebaran Idul Fitri, Umar mengajak istrinya untuk mudik ke Belitang untuk berlebaran dan mengunjungi Orang Tua dan Mertuanya. Lalu ajakan itupun disambut bahagia oleh Tata. Di Belitang mereka tinggal di rumah orang tua Umar. Lalu sehari sebelum lebaran Umar menyengajakan diri berkunjung kerumah mertuanya sendirian tanpa ditemani Tata. Di rumah mertuanya ia berjumpa dengan adik-adik ipar dan Ibu mertuanya. Ia begitu sayang dengan keluarga dari istrinya tersebut terutama mertuanya.
Ibu mertuanya kemudian bertanya mengapa ia hanya datang sendiri, lalu Umar menjawab karena istrinya sedang sibuk memasak bersama Ibu dan Kakak perempuannya. Tak hanya bertanya itu, ibu mertuanya pun bertanya kondisi Rumah Tangga mereka, dengan penuh antusias Umar menjawab bahwa Rumah Tangganya baik-baik saja bahkan sangat harmonis. Namun, ibu mertuanya tentu tahu meskipun tak diberitahu bahwa sedang ada hal yang tidak beres dalam rumah tangga putri dan menantunya tersebut menanyakan apakah benar yang dikatakan oleh Umar itu? Dengan tegas Umar pun menjawab “Alhamdulillah benar bu.”
Lalu ibu mertuanya menanyakan kapan Umar dan Tata akan memberikan tangisan seorang cucu kedalam keluarganya. Dengan sebuah senyum Umar menjawab “InsyaAllah bu, do’akan saja.”
Hal itu semakin menambah Ibu mertuanya mencium kondisi yang tak baik, lalu ia akhirnya berkata kepada menantunya itu “Yang sabar ya nak, Batu Karang pun bisa pecah oleh hantaman ombak yang terus menerus. Beri ia kasih sayang terus menerus jangan pernah berhenti. Ibu yakin kamu bisa.”
Sembari meneteskan air mata Umar mengucap Amiin dan kemudian mencium tangan ibu mertuanya. “Amiin, InsyaAllah bu. Terima Kasih Nasehatnya bu. Aku takkan menyakiti dia sedikitpun dan akan selalu membahagiakannya. Mohon do’a dari ibu.”
Belum sempat memasuki rumah, Umar dikejutkan dengan sebuah salam, lalu Umar pun menjawab salam tersebut dan kemudian orang tersebut memberikan secarik kertas yang berisi undangan Halal bi Halal Alumni SMAN 1 SS III pada hari ke Tiga Lebaran.
Hari Raya pun tiba. Lafadz takbir berkumandang di seantero Jagad Raya. Seluruh umat muslim di dunia merayakan hari besar itu. Tak terkecuali keluarga Besar Pak Hasan dan Pak Hendri. Kedua keluarga saling bersilaturahmi tak terkecuali Umar dan Tata.
Lebaran ke Tiga pun tiba, Umar dan Tata pun turut hadir dalam acara Halal bi Halal tersebut, mereka berjalan tak bergandengan, meski Umar sempat menggandeng tangan Tata namun gandengan tangan tersebut dilepas oleh Tata. Mereka pun melangkah menuju Sekolah mereka dulu yang tidak terlalu jauh dari rumah Orang Tua Umar.
Di sana hadir pula seseorang yang tentu takkan pernah dilupakan oleh Umar dan Tata. Dia adalah Tio. Teman Umar dan sekaligus Cinta Pertama Tata yang hingga kini masih melekat dan tak dapat dilupakannya. Seseorang yang membuat Tata masih belum menerima pernikahannya dengan Umar. Ketika Umar sedang menyapa teman-temannya kala SMA, Tata tak henti memandang Tio yang sedang duduk, hingga datanglah seorang wanita muda mendekati Tio yang ternyata adalah tunangannya, dan hal itu tentu membuat Tata merasa cemburu dan marah.
Acara inti pun dimulai dengan Basmallah dan kemudian sambutan-sambutan serta sebuah materi Motivasi yang disampaikan oleh Umar, dan satu kata yang melekat yang diucapkan Umar kala itu adalah “Gapailah segala hal yang membuatmu bahagia, dan tinggalkan yang tidak membuatmu bahagia.” Acara pun ditutup dengan Hamdalah dan dilanjutkan dengan acara hiburan yang menampilkan Band dari SMA. Kemudian saat itu dipanggilah grup Band SMA zaman Umar dan kawan-kawannya. Tidak semuanya hadir dari 6 personel, dan yang hadir hanya 3 yaitu Umar, Ahmad, dan Tri. Dan merekapun bernyanyi sembari bermain alat musik dengan bantuan penabuh Drum dari grup Band SMA.
Mereka menyanyikan lagu-lagu mereka ketika SMA dengan bergantian. Ahmad menyanyikan lagu Demi Cinta (Kerispatih) lalu Tri menyanyikan lagu Semua Tentang Kita (Peterpan) dan Umar menyanyikan lagu Dirimu Satu (Ungu). Lalu di lagu berikutnya mereka menyanyi bersama-sama dengan lagu Kita Selamanya (Bondan and Fead 2 Black) dan kemudian disusul oleh pasangan mereka masing-masing kecuali Tata, istri Umar. Umar yang memegang keyboard hanya dapat tersenyum dan menunduk seolah fokus bermain keyboard dan menyanyi saja padahal ia sedang mengalihkan perhatian saja. Setelah mereka selesai menyanyikan lagu itu, Ahmad dan Tri turun dari panggung bersama pasangan mereka masing-masing. Namun, Umar masih berada diatas panggung dan kemudian memainkan jemarinya di keyboard, ternyata Umar menyanyikan sebuah lagu yang sangat sarat makna, yaitu Sayang Lahir Batin (Wali) yang kurang lebih liriknya seperti ini :

Sayang Lahir Batin
(Wali Band)

Dengarkanlah aku
cerita hatiku
cerita tentangmu

Aku mau ikhlas
Ikhlas menyayangimu
Tutuplah matamu

Cukup aku dan Tuhan yang tahu
Aku tlah berjanji menyayangimu
Lahir dan batinku
Aku tlah berjanji mendampingimu
Lahir dan batinku

Andai engkau tahu
Ku siap mati untukmu
Jiwa dan ragaku

Cukup aku dan Tuhan yang tahu

Aku tlah berjanji menyayangimu
Lahir dan batinku
Aku tlah berjanji mendampingimu
Lahir dan batinku

Andai engkau tahu
Ku siap mati untukmu…..

Lagu yang membuat terdiam seluruh tamu yang menghadiri acara Halal Bi Halal tersebut. Setelah menyanyikan lagu itu, Umar sempat mengusap air matanya yang sempat jatuh di pipinya. Lalu disambut dengan tepuk tangan dari para tamu undangan.
Dua hari kemudian, Umar dan Tata kembali ke Palembang untuk kembali beraktivitas seperti biasanya. Umar kembali sebagai Dosen dan Pemain Sepak Bola, pun Tata kembali sebagai Guru SMA.
Hingga suatu ketika seusai Qiyamul Lail, Umar memandang istrinya yang tengah tertidur pulas dengan mendalam dan penuh kasih sayang. Lalu Umar berujar dalam hati “Maafkan aku sayang, mungkin kau tak bahagia bersamaku. Dalam hatiku aku sangat sayang padamu, untuk itu mungkin sudah saatnya kau ku lepas untuk kebahagiaanmu. Dan yakinlah sayang, aku sangat sayang padamu karena Allah.”
Keesokan paginya ketika tengah sarapan, Umar berkata kepada Tata, “Kakak mau Tanya sama kamu de’, apakah kamu merasa bahagia bersama kakak? Jawab yang jujur, karna jawabanmu adalah penentu bagiku.” Tata hanya terdiam dan tak mampu untuk berkata-kata.
“Jawab de’..!! kenapa kamu hanya diam? Aku sayang kamu de’. Baiklah aku akan melepaskanmu dengan ikhlas, tapi ada satu syarat, izinkan aku sehari saja merasakan kebahagian bersamamu, sehari dengan kasih sayang yang tulus dari dasar hatimu, sehari atau dua hari berikutnya kamu akan menerima surat cerai yang akan ku kirim padamu.”
“Jangan 24 Jam tapi 18 Jam saja.”
“Baiklah kalo itu maumu de’.”
“Kapan hari itu?” Tata bertanya lagi.
“Lusa.” Umar menjawab.
Keesokan lusanya perjanjian itu dimulai, pukul 02.00 dini hari Tata membangunkan Suaminya untuk mengajak melaksanakan Qiyamul Lail. Seusai melaksanakan Qiyamul Lail Umar berdo’a dan di dalam do’a tersebut hanya satu permintaannya yaitu “Lancarkan dan Berkahilah kami hari ini Yaa Allah.” Tata yang mendengar do’a tersebut sempat gemetar dan bertanya-tanya dalam hati, “Benarkah hanya itu yang ia minta? Subhanallah.” Kemudian ia menjawab “Amiin.”
Adzan Subuh pun berkumandang, Umar kemudian Qomath dan merekapun melaksanakan Sholat Subuh berjama’ah. Selesai sholat kembali Umar berdo’a yang sama seperti do’anya ketika Qiyamul Lail. Seusai melaksanakan Ritual kewajiban mereka, Tata menghampiri Umar dan menyalami serta mencium tangan Umar. Kebahagiaan tiada tara Umar rasakan, sesuatu hal yang ia harapkan sejak lama dilakukan oleh Tata yang membuat matanya berkaca-kaca.
Kemudian Tata menuju dapur dan mencoba untuk memasak sesuatu yang spesial, makanan kesukaan dari Umar, Ayam Goreng Bumbu. Umay yang melihat istrinya tengah sibuk di dapur, kemudian mencoba mendekat dan membantu Tata memasak. Mereka begitu menikmati kebersamaan saat memasak, sebuah kebersamaan yang sebelumnya pun belum pernah mereka rasakan. Mereka saling menggoda satu sama lain yang diawali oleh Tata yang mengusapkan tepung ke pipi Umar, lalu dibalas oleh Umar. Hingga segala tawa dan kebahagiaan tertumpah disana.
Selesai memasak menu spesial ala Chef Umar dan Chef Tata, mereka sarapan bersama, kembali hal baru dimulai, dimana saat itu Tata dengan penuh ketelatenan menuangkan nasi dan lauk pauk yang Umar inginkan ke piringnya. Kebahagiaan yang baru lagi pun tercipta. Kemudian mereka melanjutkan aktivitas lainnya yaitu membersihkan rumah yang sudah cukup lama tak pernah dibersihkan.
Siang harinya Umar mengajak Tata untuk jalan-jalan, dan satu tempat yang mereka tuju adalah Pulau Kemaro (Pulau Kemarau). Diperjalanan pulang menuju Dermaga BKB, mereka melihat sebuah Masjid yang berdiri kokoh di tepian sungai, lalu mereka pun memutuskan untuk ke Masjid itu dulu untuk menunaikan sholat Ashar. Seusai menunaikan Sholat Ashar, mereka merasakan kedamaian dan ketentraman di Masjid itu, lalu mereka memutuskan untuk diam disana lebih lama. Disana mereka menumpahkan segala kebahagiaan bersama hingga sore hari pun tiba.
Pukul 17.00 WIB mereka tiba di rumah. Berarti masih ada 1 jam lagi tersisa. Umar berfikir apa yang dilakukan untuk menghabiskan satu jam tersisa itu. Lalu ia mengambil 2 lembar kertas dan 2 buah pena di ruang kerjanya. Kemudian ia menyerahkan satu pena dan satu kertas kepada Tata, dan meminta untuk menuliskan segala kekurangan masing-masing pasangannya dan harapan mereka, Umar menulis kekurangan Tata, pun Tata menulis kekurangan Umar. Dan pukul 18.00 tepat harus sudah harus diberikan kepada lawannya dan dibaca setelah Umar pergi.
Akhirnya waktu kebersamaan hari itu pun berakhir. Dengan berat hati Tata menyerahkan kertasnya kepada Umar, pun sebaliknya. Merekapun kembali ke kamar, namun malam itu Umar tidak tidur dikamar mereka, Umar keluar kamar dan tidur di Sofa ruang keluarga.
Sudah larut malam Tata yang berada dikamar tak dapat memejamkan matanya, ia masih tersenyum-senyum sendiri sembari mengingat-ingat seluruh kejadian yang terjadi hari ini bersama suaminya. Tak terasa air matanya menetes membasahi pipi dan berujar dalam hati, “Ternyata rasa ini begitu indah, Yaa Allah aku ingin mengulangi kejadian-kejadian seperti hari ini, aku ingin mengulang kebahagiaan-kebahagiaan yang tercipta hari ini bersamanya. Yaa Allah apakah ini rasa sayang yang sesungguhnya? dan apakah aku sedang jatuh cinta? Yaa Allah sudah terlambatkah rasa ini? Mengapa rasa sesal ini selalu tercipta di akhir? Mengapa tidak diawal? Yaa Allah.. Sungguh aku merasakan Cinta dan Sayang yang mendalam padanya. Yaa Allah,, maafkan aku yang telah menyia-nyiakannya yang begitu sayang dan cinta padaku. Yaa Allah, aku bertaubat padaMU. Dan Yaa Allah beri aku satu kesempatan lagi untuk memberikan seluruh hidupku untuknya.” Dan akhirnya ia pun terlelap.
Esok paginya, ia berpamitan kepada Tata untuk pergi darinya dan menyerahkan Rumah beserta isi dan 1 buah mobil untuknya. Lalu ia pun masuk kedalam mobilnya, setelah Umar membawa mobilnya untuk meninggalkan rumah itu, Umar mengambil secarik kertas yang ada ditasnya, kertas yang kemarin ditulis Tata untuknya. Begitu banyak kekurangan yang tertulis di kertas tersebut, dari kurang mampu memahami hingga kurang-kurang lainnya dan terakhir ia baca sebuah tulisan yang berbunyi “Maaf untuk segalanya.”
Sementara di rumah Tata berlari menuju kamar dan mengambil kertas yang kemarin ditulis Umar untuknya, didalam kertas tersebut hanya ada tulisan, “Terima Kasih untuk segalanya, meski hanya diakhir tapi aku sangat bahagia dan kurasa bagai puluhan tahun lamanya. Kekuranganmu tak pernah ada di mataku, bagiku kau adalah wanita paling sempurna yang ada di dunia ini. Sesuai lagu yang ku nyanyikan ketika Halal bi Halal kemarin, Aku Sayang Kamu Lahir Batin.”
Umar yang begitu serius dengan kertasnya tidak memperhatikan kendaraan yang tiba-tiba muncul di arah berlawanan. Umar yang masih serius membaca kemudian terkejut mendengar suara klakson dan akhirnya ia membanting stir ke kiri dan akhirnya menabrak sebuah pohon. Tata yang sedang membaca kertas dari Umar tiba-tiba terjatuh. Dan mengerang kesakitan. “Aduuh.. ada apa ini?”
Tak cukup 15 menit, telepon rumah berdering, dan betapa terkejut dan terpukulnya Tata mendengar sebuah kabar yang disampaikan oleh petugas Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang bahwa Umar mengalami kecelakaan dan tengah berjuang di ruang UGD RSMH.
Tata langsung memberi kabar ke Orang Tua dan Mertuanya. Dan dengan tergesa dan tangisan dipipinya ia langsung memanggil supirnya dan langsung berangkat ke Rumah Sakit.
Di Rumah Sakit ia melihat sang suami yang tergolek tak sadarkan diri di atas ranjang Ruang ICU, ia masuk kedalam ruangan itu dan duduk sembari menangis di samping suaminya. 3 jam kemudian rombongan keluarga Tata dan Umar tiba di Rumah Sakit, kedua Ibu mereka langsung masuk dan menemani Tata menjaga Umar.
Sementara kedua Ayah mereka pulang ke rumah mereka, belum sempat masuk ke rumah, tiba-tiba ada Pak Pos yang mengantarkan sebuah surat dari Pengadilan Agama yang di tujukan untuk Tata. Karena penasaran dengan isinya, lalu Pak Hendri membuka amplop tersebut. Dan alangkah terkejut mereka ketika membaca bahwa surat itu adalah Surat Gugatan Cerai. Belum sempat mereka duduk, mereka kembali menuju Rumah Sakit untuk meminta penjelasan dari Putri dan Menantu mereka tersebut.
Setibanya di Rumah Sakit, dengan penuh rasa emosi mereka mencoba untuk masuk kedalam ruang ICU dan memanggil Tata. Namun, hal itu segera dihalangi oleh Ibu Hasan, “Jangan masuk Yah..!! ada apa, kenapa kelihatannya Ayah sedang emosi.” Dengan penuh emosi kemudian Pak Hasan menjelaskan kepada Bu Hasan dan Bu Hendri. Betapa shocknya Bu Hasan kala itu, bahkan akhirnya ia pun tak sadarkan diri, dan langsung di papah menuju ruang kesehatan.
Setelah kejadian itu, akhirnya Pak Hasan terdiam dan terduduk dilantai dan bersandar disebuah tiang sembari menangis dan berujar, “Yaa Allah, apa salahku? Kenapa kau berikan ujian yang begitu berat ini kepada kami.” Pak Hendri yang turut emosi, mencoba menenangkan Pak Hasan yang masih terduduk dan menangis mengharu.
Beberapa saat kemudian setelah Bu Hasan tersadar dan kemudian dengan lemah di tuntun oleh Bu Hendri menuju ke Ruang ICU tempat Umar di Rawat. Lalu Bu Hasan menghampiri Pak Hasan yang duduk dan masih emosi serta menyalahkan diri sendiri.
“Sudahlah Yah, tenang dan sabar, lihat anak dan menantu kita, mereka masih bersama, meski nanti mereka berpisah, ingatlah hari ini ketika Putra dan Menantu kita bersama saling mengasihi satu sama lain. Menantu kita pun masih setia berada di sana menunggui anak kita sadar. Sudahlah, kita do’akan saja yang terbaik untuk mereka.”
Mendengar kata-kata istrinya, Pak Hasan beranjak dari duduknya, lalu ia menghapus air matanya, kemudian meminta Surat Cerai yang di pegang Pak Hendri dan ia meminta untuk memanggil Tata keluar. Tak beberapa lama Tata keluar dari Ruang ICU dan menghampiri mertuanya yang berdiri tak jauh dari pintu. Belum sempat bertanya ada apa, tiba-tiba Pak Hasan berlutut dan bersujud dihadapan Tata sembari menangis dan berkata,
“Maafkan segala yang pernah dilakukan Umar kepadamu nak. Maafkan juga jika selama ini kami maupun Umar tidak dapat memberikan kebahagiaan kepadamu. Maaf nak.. maaf nak.. Sekarang Ayah dan Ibu hanya dapat pasrah saja dengan keputusanmu nak.”
Tata menjawab sembari mengangkat ayah mertuanya itu untuk berdiri.
“Kenapa Yah? Tidak ada yang salah.”
“Ini suratnya. Kami hanya dapat pasrah. Maafkan kami nak,, maaf.”
Setelah menerima dan membaca surat itu barulah Tata mengerti, ia pun segera memeluk ayah mertuanya itu sembari menangis dan berkata,
“Tidak Yah, Ayah dan Umar tidak salah, yang salah aku. Aku tidak pernah menyadari semuanya. Aku yang salah dan aku yang seharusnya minta maaf Yah.”
Lalu Tata melepas pelukan dari Ayah mertuanya lalu menyobek Surat Gugatan Cerai tersebut.
“Semua ini takkan pernah terjadi. Aku menyesali semuanya. Aku sayang kepada Umar, sama seperti dia menyayangiku bahkan lebih dari itu.”
Setelah melihat apa yang dilakukan menantunya itu, Bu Hasan yang sedari tadi hanya dapat menangis langsung memeluk menantunya yang kemudian disusul Bu Hendri.
“Terima Kasih nak.”
Suasana tangis-tangisan itu pun masih berlangsung hingga akhirnya Kakak Perempuan Umar yang panik berlari keluar ICU dan memanggil Perawat dan Dokter.
“Dokter… Dokter… cepat kemari.. Dokter.”
Tata yang terkejut mendengar Kakak iparnya tersebut berlari dan berteriak segera masuk ke Ruang ICU dan berlari ke dekat Umar, dilayar mesin Detak Jantung pun berbunyi panjang dan hanya ada garis lurus yang menandakan bahwa Detak jantung Umar telah berhenti. Dokter pun datang dan perawat meminta agar Tata keluar ruangan.
Di luar Ruangan tampak seluruh keluarga menangis dan berdo’a, terkecuali Pak Hasan yang ternyata sudah berada di Mushola Rumah Sakit, di sana ia menunaikan Sholat Istikhoroh dan kemudian berdo’a sembari menangis.
“Yaa Allah, Ampunilah segala dosa-dosaku. Ku Mohon Yaa Allah sembuhkan anakku, ku mohon jangan ambil dia dari kami. Aku sadari semuanya kesalahanku, aku telah banyak berdosa kepadaMU Yaa Allah. Ku mohon Yaa Allah.. Ku mohon......”
Sementara itu, di luar Ruang ICU seluruh keluarga masih menangis dan berdo’a, begitupun Tata yang memeluk kedua Ibunya itu. Sembari menangis dan menyesali semuanya yang telah terjadi selama ini di dalam Rumah Tangganya dan dalam hati berdo’a.
“Yaa Allah, ampuni aku. Semua ini kesalahanku. Aku menyesali semuanya Yaa Allah. Yaa Allah ku mohon kembalikan ia padaku, bukankah dulu KAU yang telah mempersatukan kami, dan kini aku memohon, satukanlah kami kembali Yaa Allah. Aku Sayang dia, Allah. Beri aku satu kesempatan lagi untuk menyayanginya dengan segenap rasa sayang yang KAU berikan padaku, Yaa Allah.”
Beberapa Saat kemudian, Dokter yang menangani Umar keluar dari Ruang ICU. Tata yang melihat dokter keluar, langsung menghampirinya dan bertanya, “Bagaimana keadaan Suami saya Dok.”
“Alhamdulillah… ini semua berkat do’a dari keluarga semua, sebuah keajaiban Allah telah ditunjukkanNYA. Pak Umar, bisa diselamatkan, dan sekarang sudah dalam kondisi normal namun beliau jangan dulu diganggu. Biarkan beliau istirahat hingga esok pagi.”
Tata yang mendengar perkataan Dokter itu langsung mengucapkan terima kasih kepada dokter lalu melakukan sujud syukur. “Alhamdulillahi Robbil ‘alamin. Terima Kasih Yaa Allah.”
Keesokan paginya, seluruh keluarga telah berkumpul melingkari Tempat pembaringan Umar di Kamar Rawat Inap. Tata memegangi tangan Umar dan memanggil namanya. “Kak,,, Kak Umar…”
Perlahan namun pasti, Mata Umar mulai terbuka. Umar yang baru sadar melihat ke sekelilingnya dari mulai Tata, Ibu, Ibu Mertua, kedua Kakak Perempuan, Keponakannya, Kakak Ipar, Ayah Mertua, dan Ayahnya dan kembali lagi memandang Tata yang memegang dan mencium tangannya. Sembari menangis lalu Tata berkata,
“Alhamdulillah… Terima kasih Yaa Allah, KAU telah mengembalikan orang yang paling ku sayang kepadaku..!! Kak, maafkan istrimu yang durhaka ini, maafkan atas segala kesalahanku padamu kak. Aku sayang kakak.”
“Sudah de’, jangan menangis. Tak ada yang perlu dimaafkan karena Ade’ tak salah. Dan tidak ada yang salah. Kakak juga sayang denganmu, de’.” Umar berkata sembari menarik lembut kepala Tata dan mencium kening Tata lalu memeluknya.
Di Ruang tamu tampak seorang pemuda dengan senyum dibibirnya memandang foto sepasang suami-istri yang berpelukan mesra. Miky, pemuda berumur 19 tahun tengah memandang foto kakek dan neneknya sambil mengingat segala kisah terindah Nenek dan Kakeknya itu yang pernah diceritakan Ibunya.
“Sesungguhnya Allah tidak akan pernah memberikan sesuatu yang buruk kepada umatNYA. Semua yang IA beri adalah yang terbaik untuk umatnya. Semua itu hanya butuh proses, dan proses membutuhkan kesabaran, dan kesabaran membutuhkan ke-Tawakkal-an.” (Rizky ar-RizMi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar