Dakwah bagaikan cahaya yang terpantul dari kedalaman senyawa dalam
dada. Cahayanya terpantul karena banyaknya kaca hati yang terserak,
menyertai segenap duka yang terpupuk atas nama surga. Semakin banyak
kaca hati yang terserak mampu melunturkan waktu yang kian menipis di
kisi-kisi senja. Berharap cepat kembali demi sebuah cinta. Bagi seorang
aktivis, dakwah merupakan sebuah jalan panjang menuju surga-Nya yang
penuh onak dan duri. Tidak akan disebut berdakwah ketika seorang aktivis
tidak menemui cobaan dalam berdakwah. Karena memang cobaan adalah
bagian dari dakwah itu sendiri dan Allah akan selalu menguji kesungguhan
hati orang-orang yang telah berani mengatakan bahwa mereka beriman.
Banyak aktivis yang telah berhasil melewati berbagai fase cobaan dalam
rentang dakwahnya yang panjang. Aktivis ini telah membuktikan dirinya di
hadapan kaum muslimin dan Rabb bahwa dengan keteguhan hati dan
kesabarannya telah berhasil melakukan terobosan-terobosan dakwah yang
penuh strategi dalam melawan kebatilan. Aktivis ini menjadi tumpuan
dakwah di tempatnya berada karena dapat dipercaya dan amanah dalam
melaksanakan berbagai agenda. Ia layak digelari mujahidullah peradaban
karena mampu bertahan dengan cobaan dakwah yang menyangkut strategi
dalam melawan kebatilan. Tetapi seringkali aktivis itu tidak menyadari
bahaya cobaan yang sedang menerpa hatinya. Hatinya yang rapuh sering
tergelincir dengan cinta terhadap lawan jenis yang tumbuh dari
kebersamaan mereka dalam dakwah yang panjang dan penuh cobaan. Ta'awun
yang mereka lakukan seringkali menimbulkan benih-benih terpendam. Lalu
diam-diam mereka pupuk di dalam hati hingga akhirnya bunga bermekaran di
mana-mana. Sayangnya, bunga itu bukanlah bunga mawar yang indah...
Bunga itu tumbuh bukan dari keimanan, melainkan dari pandangan mata dan
nafsu yang pelan-pelan merusak hati lalu menggerogoti jiwa yang lemah.
Jiwa itu kini menjadi rapuh, merusak seluruh niat yang tersampir di dada
lalu akhirnya merobohkan sendi-sendi dakwah.
Walaupun begitu,
sulit sekali untuk melepaskan ‘dia' yang telah bersemayam di dada, jauh
melebihi Dia yang selama ini selalu bersama kita dengan penuh cinta.
Bagaimana bisa melupakannya begitu saja? Ketika seorang aktivis dakwah
telah terlalu lama menancapkan panah-panah pandangan mata ke arah ‘dia'
yang tampak indah dengan segala gerik dakwahnya, sedangkan Dia-Rabb yang
selalu ada untuk kita tak pernah sekalipun menampakkan wujud-Nya, tentu
saja sosok'nya' jadi lebih bermakna. Kita takut tegas padanya karena
sebelumnya telah terbayang wajahnya yang memelas. Kita jadi takut
berbuat salah padanya karena telah terbayang wajahnya yang merah padam.
Sekarang di dalam pikiran hanya ada wajahnya dimana-mana! Inilah bahaya
kalau para aktivis mengurangi porsi
ghadul bashar pada lawan jenis. Lalu setelah berusaha ghadul bashar
dan meluruskan niat lagi, datang cobaan dari lingkungan sesama aktivis
dakwah. Yang anehnya lagi, lingkungan aktivis kadang malah mendukungnya.
Mereka ucapkan kata-kata penggoda untuk membuatnya merasa bahwa sosok
‘itu' juga pantas disandingkan dengannya. Hati yang telah kokoh
dibentengi keimanan kepada Allah itu akhirnya kandas juga dimakan api
asmara yang datangnya dari sesama para aktivis dakwah. Terkadang
lingkungan aktivis dakwah sekalipun juga dapat menjerumuskan ketika
orang-orang yang ada di lingkungan itu sendiri kurang bisa menjaga hati
dan pandangannya. Benar-benar cobaan yang dahsyat! Harapan dan kenyataan
untuk menggapai surga-Nya telah terkotori oleh cobaan cinta dari lawan
jenis yang tidak mampu dimaknai sesuai porsinya. Kini, yang tersisa
hanyalah puing-puing dakwah yang terserak, roboh terkena badai cinta.
Cinta... tiada satu pun di dunia ini yang menafikan karena
cinta sendiri merupakan senyawa yang menjadi fitrah manusia sejak dia
ada. Sekarang, permasalahan yang muncul adalah apakah kita bisa
menumbuhkan benih cinta yang ada di dalam hati sesuai dengan porsinya?
Apakah kita mampu mensinkronisasikan cinta dengan dakwah yang telah
menjadi darah daging kita sendiri? Ataukah kita memisahkan cinta dengan
dakwah lalu jatuh terluka karena telah mencabik-cabiknya dari nyawa?
Kita letakkan harapan pada hamba, yang bahkan masih mengeja makna cinta.
Sedangkan cinta hanya mau berharap pada Ilahi Rabbi-Tuhan yang telah
menjadikannya ada. Andaikan kita menjadi seorang aktivis yang telah
jatuh cinta pada seorang pengemban dakwah lainnya, apakah kita adalah
orang yang lantas tergelincir dari jalan dakwah ataukah kita mampu
bertahan lalu menjaga cinta kita sebagai rahasia saja? Atau
jangan-jangan kita biarkan cinta dan dakwah berjalan beriringan. Kita
berjuang untuk Allah sekaligus untuk mendapatkan cinta dari aktivis
dakwah lainnya juga. Padahal kita mengetahui hanya amal yang niat tulus
karena Allah saja-lah yang diterima oleh Allah. Wahai para pengemban
risalah Allah, sadarlah... Hanya kejujuran dan ketulusan sajalah yang
mampu mengalahkan semua niat yang telah ternoda di dalam dada. Ketika
niat telah terkotori dan cinta telah berharap pada selain Allah,
jujurlah pada Allah. Utarakan kepada Allah dengan sejujurnya keinginanmu
yang sebenarnya. Jika ingin bersatu dengannya, mintalah... Pun ketika
hati ini ingin diluruskan oleh Allah, dihilangkan bayang-bayang dirinya
dari pikiran, maka mintalah... Jujurlah pada Allah... Kenapa kita harus
menutupi hal yang tampak di hadapan-Nya?. Tulus dan jujurlah hanya
kepada Allah-Rabb yang Maha Mengetahui segala isi hati. Karena hanya
Allah saja yang mampu jujur dan tulus kepada kita. Bukan pendamping
dakwah yang kita harapkan atau bahkan lingkungan yang mungkin juga
sedang futur. Lalu ketika Allah telah membalas kejujuran itu, maka
saatnya untuk tulus kepada Allah. Tulus atas apapun keputusan Allah yang
diberikannya kepada kita. Seandainya Allah mengabulkan doa-doa kita,
anggaplah ini sebagai kado kecil dari-Nya karena kita telah jujur
pada-Nya. Jika Allah mengizinkan kita bersatu dengan kekasih hati, maka
tuluskan lagi niat kita hanya karena Allah. Maka insyaAllah perjalanan
dakwah ini dengan kekasih hati akan lebih indah dan diridhoi oleh-Nya.
Sedangkan bila Allah justru memisahkan kita dengan kekasih hati, maka
kita juga harus berusaha tulus menerima segala keputusan Allah. Ini
adalah keputusan terbaik dari Allah dan tiada yang bisa menandinginya.
Yakinlah dengan keputusan Allah ini, maka insyaAllah penggantinya akan
lebih baik dari apa yang selama ini kita bayangkan.InsyaAllah dengan
kejujuran dan ketulusan cinta ini maka aktivis dapat melangkah di jalan
dakwah dengan keyakinan teguh dan kesabaran. Akivis menjadi insan yang
istiqomah melangkah di jalan dakwah. Aktivis menjadi mujahid yang
berhasil dari segi strategi dan segi kesucian cinta. Semoga kita semua
menjadi aktivis yang mampu jujur dan tulus kepada Allah atas fitrah
cinta yang telah menjadi senyawa dalam jiwa kita. Aamiin...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar