Manusia adalah wujud dari kemahasempurnaan Allah SWT yang menciptakan
(al-Khaliq), yang mengadakan (al-Bari'), dan yang membentuk rupa
(al-Mushawwir). Di samping kesempurnaan jasmani dan rohani, kapasitas
intelektual adalah alasan penting mengapa manusia dipilih untuk menerima
amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Kesempurnaan manusia
adalah pada kemampuannya berpikir, menerima dan mengembangkan ilmu
pengetahuan, memanfaatkan fakultas-fakultas yang dimilikinya, yaitu
as-samu (pendengaran), al-bashar (penglihatan), dan al-fuad (hati).
Menuntut
ilmu adalah tugas pertama dan utama seorang anak manusia. Allah SWT
telah mengajarkan nama-nama benda kepada Adam AS pada awal penciptaan
sebagai landasan bagi penguasaan ilmu pengetahuan. (QS al-Baqarah
[2]:31).
Perintah membaca (iqra) dan menulis dengan pena
(al-qalam) juga merupakan perintah pertama dari risalah kenabian. Wahyu
pertama yang diterima oleh Rasulullah SAW adalah perintah membaca dan
menulis. (QS al-Alaq [96]:1-5).
Belajar, mencari, menguasai, dan
mengembangkan ilmu pengetahuan adalah tugas yang pertama dan utama dari
umat Muhammad SAW. Dengan bekal ilmu pengetahuan yang dimilikinya,
manusia dapat memakmurkan bumi dan mencegahnya dari kerusakan.
Di
samping sebagai hamba dan wakil Allah SWT di muka bumi, umat Islam
adalah umat terbaik (khaira ummah) karena mereka senantiasa
memerintahkan kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah
SWT. (QS Ali Imran [3]:110).
Untuk dapat memelihara eksistensi
dan kehormatannya sebagai umat yang terbaik, khaira ummah, the best
nation of peoples for the people, umat Islam perlu terus-menerus
belajar, beriman, dan beramal menyampaikan pesan-pesan Islam dengan
contoh dan perbuatan serta tetap bersabar di dalam melaksanakannya.
Pengetahuan yang mencerdaskan sekaligus mencerahkan tersebut diperoleh
dengan menjelajahi dan mendalami ayat-ayat Allah SWT (the Spoken Verses)
dan tanda-tanda di dalam ciptaan-Nya (the Creation Verses).
Kemampuannya
untuk menggunakan hati (zikir) dan nalar (pikir) di dalam menjelajahi
tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah ciri utama dari seorang Muslim cendekia
(ulul albab, men of understanding). Itu sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah SAW, para sahabat, pengikut, dan pewaris terbaiknya. (QS Ali
Imran [3]: 190-191).
Mengenai turunnya ayat ini, Abdullah Ibnu
Umar RA menceritakan, dari Ummul Mu'minin Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW
berdiri di dalam shalat malamnya dan menangis hingga janggutnya menjadi
basah. Beliau menangis hingga air matanya membasahi lantai. Beliau
kemudian berbaring dan bertumpu pada bagian sisinya seraya menangis.
Ketika
Bilal datang untuk mengingatkan waktu shalat Subuh, dia berkata, "Ya
Rasulullah, apa gerangan yang membuatmu menangis, padahal Allah SWT
telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan akan datang.” Beliau
SAW berkata, "Ya Bilal, apa yang dapat menghalangi tangisku, ketika
malam ini, ayat ini (QS Ali Imran [3]:190), diturunkan kepadaku. Celaka
orang yang membaca ayat ini, tetapi tidak merenungkannya." Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar