Bismillahirrohmanirrohim...
Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokaatuh...
Keislaman
beliau telah memberikan andil besar bagi perkembangan dan kejayaan Islam.
Beliau adalah pemimpin yang adil, bijaksana, tegas, disegani, dan selalu
memperhatikan urusan kaum muslimin. Pemimpin yang menegakkan ketauhidan dan
keimanan, merobohkan kesyirikan dan kekufuran, menghidupkan sunnah dan
mematikan bid’ah. Beliau adalah orang yang paling baik dan paling berilmu
tentang al-Kitab dan as-Sunnah setelah Abu Bakar As Siddiq.
Kepemimpinan
Umar bin Khattab tak seorangpun yang dapat meragukannya. Seorang tokoh besar
setelah Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq. Pada masa kepemimpinannya
kekuasaan islam bertambah luas. Beliau berhasil menaklukkan Persia, Mesir,
Syam, Irak, Burqah, Tripoli bagian barat, Azerbaijan, Jurjan, Basrah, Kufah dan
Kairo.
Dalam masa
kepemimpinan sepuluh tahun Umar bin Khattab itulah, penaklukan-penaklukan
penting dilakukan Islam. Tak lama sesudah Umar bin Khattab memegang tampuk
kekuasaan sebagai khalifah, pasukan Islam menduduki Suriah dan Palestina, yang
kala itu menjadi bagian Kekaisaran Byzantium. Dalam pertempuran Yarmuk (636),
pasukan Islam berhasil memukul habis kekuatan Byzantium. Damaskus jatuh pada
tahun itu juga, dan Darussalam menyerah dua tahun kemudian. Menjelang tahun
641, pasukan Islam telah menguasai seluruh Palestina dan Suriah, dan terus
menerjang maju ke daerah yang kini bernama Turki. Tahun 639, pasukan Islam
menyerbu Mesir yang juga saat itu di bawah kekuasaan Byzantium. Dalam tempo
tiga tahun, penaklukan Mesir diselesaikan dengan sempurna.
Penyerangan Islam
terhadap Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Persia telah
mulai bahkan sebelum Umar bin Khattab naik jadi khalifah. Kunci kemenangan
Islam terletak pada pertempuran Qadisiya tahun 637, terjadi di masa
kekhalifahan Umar bin Khattab. Menjelang tahun 641, seseluruh Irak sudah berada
di bawah pengawasan Islam. Dan bukan hanya itu, pasukan Islam bahkan menyerbu
langsung Persia dan dalam pertempuran Nehavend (642), mereka secara menentukan
mengalahkan sisa terakhir kekuatan Persia. Menjelang wafatnya Umar bin Khattab
di tahun 644, sebagian besar daerah barat Iran sudah terkuasai sepenuhnya.
Gerakan ini tidak berhenti tatkala Umar bin Khattab wafat. Di bagian timur
mereka dengan cepat menaklukkan Persia dan bagian barat mereka mendesak terus
dengan pasukan menyeberang Afrika Utara.
Selain
pemberani, Umar bin Khattab juga seorang yang cerdas. Dalam masalah ilmu
diriwayatkan oleh Al Hakim dan Thabrani dari Ibnu Mas’ud berkata, ”Seandainya
ilmu Umar bin Khattab diletakkan pada tepi timbangan yang satu dan ilmu seluruh
penghuni bumi diletakkan pada tepi timbangan yang lain, niscaya ilmu Umar bin
Khattab lebih berat dibandingkan ilmu mereka. Mayoritas sahabatpun berpendapat
bahwa Umar bin Khattab menguasai 9 dari 10 ilmu. Dengan kecerdasannya beliau
menelurkan konsep-konsep baru, seperti menghimpun Al Qur’an dalam bentuk
mushaf, menetapkan tahun hijriyah sebagai kalender umat Islam, membentuk kas
negara (Baitul Maal), menyatukan orang-orang yang melakukan sholat sunah
tarawih dengan satu imam, menciptakan lembaga peradilan, membentuk lembaga
perkantoran, membangun balai pengobatan, membangun tempat penginapan,
memanfaatkan kapal laut untuk perdagangan, menetapkan hukuman cambuk bagi
peminum “khamr” (minuman keras) sebanyak 80 kali cambuk, mencetak mata uang
dirham, audit bagi para pejabat serta pegawai dan juga konsep yang lainnya.
Namun dengan
begitu beliau tidaklah menjadi congkak dan tinggi hati. Justru beliau seorang
pemimpin yang zuhud lagi wara’. Beliau berusaha untuk mengetahui dan memenuhi
kebutuhan rakyatnya. Dalam satu riwayat Qatadah berkata, ”Pada suatu hari Umar
bin Khattab memakai jubah yang terbuat dari bulu domba yang sebagiannnya
dipenuhi dengan tambalan dari kulit, padahal waktu itu beliau adalah seorang
khalifah, sambil memikul jagung ia lantas berjalan mendatangi pasar untuk
menjamu orang-orang.” Abdullah, puteranya berkata, ”Umar bin Khattab berkata,
”Seandainya ada anak kambing yang mati di tepian sungai Eufrat, maka umar
merasa takut diminta pertanggung jawaban oleh Allah SWT.”
Beliaulah yang
lebih dahulu lapar dan yang paling terakhir kenyang, Beliau berjanji tidak akan
makan minyak samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakannya…
Tidak
diragukan lagi, khalifah Umar bin Khattab adalah seorang pemimpin yang arif, bijaksana
dan adil dalam mengendalikan roda pemerintahan. Bahkan ia rela keluarganya
hidup dalam serba kekurangan demi menjaga kepercayaan masyarakat kepadanya
tentang pengelolaan kekayaan negara. Bahkan Umar bin Khattab sering terlambat
salat Jum’at hanya menunggu bajunya kering, karena dia hanya mempunyai dua
baju.
Umar Bin Khattab,
orang-orang muslim mengenalnya sebagai salah seorang sahabat dekat Rasulullaah
Muhammad Shallaahu Alaihi Wassalaam. Salah seorang al-Khulafa’ ar-Rasyidun –
para pemimpin terbaik – selain Abu Bakar, Ali Bin Abi Thalib dan Utsman Bin
Affan. Mereka adalah para pemimpin yang tidak perlu melakukan kampanye merebut
hati rakyat agar bisa menjadi pemimpin, mereka adalah orang orang yang
menganggap kursi kepemimpinan bukan sebagai sebuah anugerah atau sebuah karir
atau sebuah pengakuan atas puncak prestasi, mereka adalah orang orang yang
menganggap kekuasaan adalah sebuah amanah yang harus dipertanggungjawaban kelak
di hadapan Pemimpin Para Pemimpin, siapa lagi jika bukan Tuhan Yang Maha Kuasa.
Seorang pemimpin teladan yang seharusnya menjadi cermin dan
panutan para pemimpin saat ini, karena sungguh telah kita lihat dengan mata
kepala sendiri, di jaman sekarang sangat sulit kita temukan tipe pemimpin yang
benar-benar layak disebut sebagai seorang pemimpin.
1.
Amanah dan Tanggung Jawab.
Pada suatu pagi, Umar terlihat berjalan terengah engah
sambil menuntun seekor unta milik baitul maal (harta negara), rupanya unta ini
telah terlepas dari penambatnya dan melarikan diri. Seorang penduduk kota
Madinah yang keheranan bertanya “Mengapa
tidak engkau suruh saja salah seorang anak buahmu untuk menangkap kembali unta
itu? Mengapa seorang khalifah sepertimu harus turun tangan sendiri?”. Umar
menjawab, “Aku tidak mau nantinya
berdiri di hadapan Allah dengan predikat sebagai seorang pemimpin yang telah
menyia nyiakan harta rakyat … “
2.
Pemimpin yang mau di
kritik.
Di hadapan rakyat, Umar berkata dalam pidato
pertamanya setelah dilantik menjadi Khalifah “Apakah
kalian semua akan mentaati semua keputusanku sebagai khalifah?”. “Wahai Umar,
Kami berbaiat (sumpah setia) untuk melaksanakan semua keputusanmu selama engkau
berada di jalan Allah dan Rasul-NYA “ rakyat menyambut
perkataan Umar. “ … tapi jika aku keluar
dari jalan Allah dan Rasul-NYA, apakah yang akan kalian lakukan?”. Seorang
laki laki serta merta melompat keluar dari barisan sambil menghunus pedangnya
dan berteriak “Wahai Umar, kami akan
mengajak engkau untuk kembali ke jalan Allah dan Rasul-NYA, kami akan
meluruskanmu kembali dengan pedang ini jika perlu … “
Allahu Akbar! Jika kita melakukan apa yang seperti telah
dilakukan oleh laki laki itu di hadapan para pemimpin yang berkuasa saat ini,
tentu kita sudah tinggal nama karena tembak ditempat oleh pasukan pengawal.
Jangankan mengingatkan pemimpin dengan senjata, mengingatkan pemimpin dengan
kata kata saja bisa masuk penjara dengan tuduhan menghina simbol simbol negara.
Wahai para pemimpin jaman sekarang! Contohlah Umar yang langsung melompat dan
memeluk hormat laki-laki yang telah menghunuskan pedang di hadapannya,
contohlah Umar yang berterimakasih karena masih ada yang mau mengingatkannya …
contohlah Umar yang selalu
menangis di malam hari untuk berdoa agar masih ada rakyatnya yang tidak takut
kepadanya dan masih mau mengingatkan kesalahan kesalahannya.
3.
Kasih sayang kepada
rakyatnya.
Inilah cerita tentang ibu yang memasak batu untuk menipu
anak anaknya yang sedang kelaparan. Suatu malam Umar bersama Aslam salah
seorang ajudannya menyamar untuk melakukan inspeksi keluar masuk kampung untuk
melihat kondisi rakyatnya. Di salah satu sudut kampung terdengarlah
rintihan pilu anak anak yang sedang menangis, dan di sana Umar menemukan
seorang ibu yang sedang memasak sesuatu di tungkunya. “Wahai ibu anak anak mu kah yang sedang menangis
itu? Apa yang terjadi dengan mereka?”
“Mereka adalah anak anakku yang sedang menangis
karena kelaparan” jawab sang Ibu sambil meneruskan pekerjaannya
memasak.
Setelah memperhatikan sekian lama, Umar dan Aslam keheranan
karena masakan sang ibu tidak juga kunjung siap sementara tangisan anak anaknya
semakin memilukan. “Wahai Ibu, apa yang engkau
masak? Mengapa tidak juga kunjung siap untuk anak anakmu yang kelaparan?” .
“Engkau lihatlah sendiri … “ dan alangkah terkejutnya Umar
ketika melihat bahwa yang sedang di masak sang ibu adalah setumpuk batu. “Engkau memasak batu untuk anak anakmu?!!??”
“Inilah kejahatan pemerintahan
Umar Bin Khattab …. “ rupanya sang ibu tidak mengenali siapa yang sedang
berdiri di hadapannya, “ … wahai orang asing, aku
adalah seorang janda, suamiku syahid di dalam perang membela agama dan negara
ini, tapi lihatlah apa yang telah dilakukan Umar, dia samasekali tidak peduli
dengan kami, dia telah melupakan kami yang telah kehilangan kepala rumah tangga
pencari nafkah. Hari ini kami tidak memiliki makanan sedikitpun, aku telah
meminta anak anakku untuk berpuasa, dengan harapan saat berbuka aku bisa
mendapatkan uang untuk membeli makanan … tapi rupanya aku telah gagal
mendapatkan uang .. memasak batu aku lakukan untuk mengalihkan perhatian anak
anakku agar melupakan laparnya …. “
“ …. sungguh Umar Bin Khattab tidaklah layak menjadi
seorang pemimpin, dia hanya memikirkan dirinya sendiri”
Aslam sang ajudan hendak bergerak untuk menegur sang sang
Ibu, hendak memperingatkan dengan siapa dia sedang berbicara saat ini. Tapi
Umar segera melarangnya dan serta merta mengajaknya untuk pulang. Bukannya
langsung beristirahat, Umar segera mengambil satu karung gandum dan
dipikulnya sendiri untuk diberikan kepada sang Ibu.
Beratnya beban karung gandum membuat Umar berjalan terseok
seok, nafasnya tersengah engah dan keringat mengalir deras di wajahnya. Aslam
yang melihat ini segera berkata “
Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya saja yang membawa karung gandum itu …. “
Umar memandang Aslam sang ajudan “ … Wahai Aslam! Apakah engkau ingin menjerumuskan
aku ke neraka? Hari ini mungkin saja engkau mau menggantikan aku memikul beban
karung ini, tapi apakah engkau mau menggantikan aku untuk memikulnya di hari
pembalasan kelak?”
Apa yang dilakukan Aslam adalah apa yang akan dilakukan
oleh para ajudan pemimpin jaman sekarang … tapi masih adakah pemimpin jaman
sekarang yang mau melakukan apa yang telah dilakukan oleh Umar? Jangankan
sekarung gandum… buku agenda atau kertas catatan yang ringan saja pun akan
meminta sang ajudan untuk membawakannya.
Apakah masih ada pemimpin seperti Umar yang merelakan tidur
nyenyaknya hilang karena berusaha untuk melihat, mencari tahu dan berhadapan
secara langsung dengan penderitaan rakyatnya? Dan bukannya hanya sekedar
mendengar dari ‘ bisik bisik manis’ sang ajudan dan orang orang terdekat, atau
sekedar laporan ABS (Asal Bapak Senang).
4.
Menegakkan Keadilan Bagi
Siapa Saja.
Pada masa itu, wilayah Mesir telah masuk dalam kekuasaan
pemerintahan Umar dan yang menjadi gubernur Mesir saat itu adalah Amr Bin Ash.
Mesir adalah sebuah wilayah luas yang kaya, dan rupanya penyakit jahiliah mulai
kmebali merasuki sang gubernur dengan godaan gemar mendirikan bangunan bangunan
mewah. Di ceritakan bahwa persis di depan kantor istana gubernur Amr Bin Ash
ada sebuah tanah yang cukup luas, sang gubernur berpikir “Alangkah indahnya
jika dibangun sebuah masjid mewah di atas tanah itu .. sangat cocok bersanding
dengan istana ini“
Tapi rupanya ada sedikit ganjalan, di tanah itu juga
berdiri sebuah gubuk reot milik seorang tua penganut agama Yahudi yang tidak
rela gubuknya dihancurkan untuk sebuah masjid. Segala macam upaya penggusuran
pun dilakukan oleh Amr bin Ash, mulai dari cara baik baik dengan menawarkan
uang ganti rugi dan juga memberikan rumah pengganti bagi sang kakek …
yang semua ditolak mentah mentah oleh sang pemilik gubuk.
Amr Bin Ash hilang kesabarannya, penggusuran paksa harus
dilakukan untuk memujudkan keindahan tata letak kota dan tinggallah kakek itu
meratapi gubuknya yang dihancurkan oleh bulldozer anak buah Amr Bin Ash.
Dalam
kesedihannya timbullah niat sang kakek untuk mengadukan kezaliman Amr Bin Ash
kepada Khalifah Umar, dan pergilah ia menempuh perjalanan jauh menuju kota
Madinah.
“Di manakah istana Khalifah Umar?” Kakek itu bertanya
kepada orang pertama yang ditemuinya di Madinah dan orang yang ditanya itu
menunjuk ke arah masjid. “Aku telah menempuh perjalanan jauh dari Mesir, jangan
engkau berusaha menyesatkanku karena aku tidak tahu seluk beluk tentang kota
ini”
“Aku
tidak berusaha menyesatkanmu! Masjid adalah istana khalifah Umar, di sanalah
dia biasanya mengatur dan memberikan keputusan keputusan“
Sesampai
di Masjid yang ditunjuk sang kakek pun kebingungan lagi, manakah orang yang
menyandang gelar Khalifah itu?
Tidaklah dia melihat seorangpun di sana yang mengenakan
baju mewah yang menunjukkan kebesaran seorang khalifah yang telah mengalahkan
Byzantium dan Persia .. Khalifah yang telah diserahi kunci kota Jerusalem oleh
Uskup Sophronius
“Khalifah Umar adalah orang yang sedang duduk di bawah
pohon itu” seorang warga Madinah membantunya lagi menunjukkan seseorang yang
berpenampilan seperti orang biasa. Di hadapan ‘orang biasa’ itu diadukanlah
masalahnya, setelah mendengar cerita sang kakek Umar berdiri mengambil sepotong
tulang unta yang masih ada sedikit dagingnya, menggoreskan sebuah garis lurus
di tulang tersebut dengan pedangnya dan kemudian membuat lagi sebuah garis
menyilang garis lurus sebelumnya.
“Wahai kakek! Kembalilah engkau ke Mesir dan berikan tulang
ini kepada Amr Bin Ash …”
“Wahai Umar, Apakah engkau sedang bercanda? Aku datang
untuk meminta keadilan bukannya menjadi bahan olok olok!” Sang kakek meradang
karena merasa dipermainkan.
“Kakek yang baik! Turuti saja perintahku …”
Sambil menggerutu sang Kakek pun kembali ke Mesir dan menyerahkan
tulang yang sekarang telah berbau busuk itu ke Gubernur Amr bin Ash, sang kakek
sudah pasrah dengan nasibnya jika nantinya akan dianggap menghina gubernur. Mau
bagaimana lagi? toh dirinya hanyalah seorang Yahudi yang termasuk golongan atau
kaum minoritas di era kekuasaan Islam yang sedang dalam masa jayanya.
Tapi
alangkah kagetnya sang kakek, ketika melihat apa yang dilakukan Amr Bin Ash
setelah menerima tulang itu.
“Bongkar Masjidnya!!! Bangun kembali rumah untuk kakek ini”
dan Masjid mewah yang telah hampir jadi itu pun siap siap untuk dibongkar.
Akhirnya sang kakek mengetahui arti tulang dari Umar Bin
Khattab itu. “Wahai Amr Bin Ash,
Setinggi tingginya kekuasaan seseorang, suatu saat dia akan mati dan harus
melepaskan semua kekuasaannya … berakhir menjadi seonggok tulang. Bertindaklah
lurus dan adil dalam memimpin, karena jika engkau berbelok sedikit saja dari
amanah yang telah diberikan kepadamu, maka aku akan meluruskanmu … menghukummu
dengan pedangku”
Sebelum wafat,
Umar berwasiat agar urusan khilafah dan pimpinan pemerintahan, dimusyawarahkan
oleh enam orang yang telah mendapat ridha Nabi SAW. Mereka adalah Utsman bin
Affan, Ali bin Abu Thalib, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair binl Awwam, Sa’ad bin
Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Umar menolak menetapkan salah seorang
dari mereka, dengan berkata, aku tidak mau bertanggung jawab selagi hidup
sesudah mati. Kalau AIlah menghendaki kebaikan bagi kalian, maka Allah akan
melahirkannya atas kebaikan mereka (keenam orang itu) sebagaimana telah
ditimbulkan kebaikan bagi kamu oleh Nabimu.
Wallahua'alam bish-showab...
^_^.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar