Rasulullah pernah mengatakan,“Aku mengagumi seorang mukmin
karena selalu ada kebaikan dalam setiap urusannya. Jika ia mendapatkan
kesenangan, ia bersyukur (kepada Allah) sehingga di dalamnya ada
kebaikan. Jika ditimpa musibah, ia berserah diri (dan menjalankannya
dengan sabar) bahwa di dalamnya ada kebaikan pula.” (HR Muslim)
Nah …Itulah gambaran seorang mukmin. Setiap aktivitas dalam hidupnya
selalu mendatangkan kebaikan. Dalam hadits itu rasulullah menjelaskan
dua keadaan yang ada dalam diri manusia yaitu kesenangan dan kesedihan.
Dua keadaan itu dapat membedakan mana yang termasuk orang mukmin dan
orang yang tidak beriman . Mukmin selalu besyukur ketika mendapatkan
kesenangan dan selalu bersabar ketika mendapatkan musibah.
Syukur ketika mendapatkan kebaikan/kesenangan adalah sesuatu mudah
untuk dilakukan tetapi sabar ketika mendapatkan musibah adalah sesuatu
sangat sulit untuk dilakukan. Hal itulah yang akan membedakan tingkat
keimanan seseorang. Semakin besar ujian yang diterima dan dia dapat
bersabar maka semakin tinggi pela derajat seseorang.
Salah satu ujian kesabaran bagi seorang muslim adalah sakit. Sakit bagi seorang memiki banyak hikmah, diantaranya:
1. Sakit adalah penggugur dosa-dosa hamba-Nya. Penyakit
yang diderita seorang hamba menjadi sebab diampuninya dosa yang telah
dilakukan termasuk dosa-dosa setiap anggota tubuh. Rasulullah Saw
bersabda, “Setiap getaran pembuluh darah dan mata adalah karena
dosa. Sedangkan yang dihilangkan Allah dari perbuatan itu lebih banyak
lagi.”
(HR. Tabrani).
2. Orang sakit yang mau bersabar akan mendapatkan pahala dan ditulis
untuknya bermacam-macam kebaikan dan ditinggikan derajatnya. Rasulullah
Muhammad Saw bersabda, “Tiadalah tertusuk duri atau benda yang lebih
kecil dari itu pada seorang Muslim, kecuali akan ditetapkan untuknya
satu derajat dan dihapuskan untuknya satu kesalahan.” (HR. Muslim dari Aisyah ra).
3. Sebagai timbal baliknya, ia akan selamat dari siksa neraka.
“Aisyah Ummul Mukminin menerangkan sabda Rasulullah Saw bahwasannya
sakit karena demam itu akan menghindarkan orang Mukmin dari siksa api
neraka.” (HR. Al-Bazzar)
4. Selalu ingat pada Allah. Dalam kondisi sakit akan membuat orang
merasa benar-benar lemah, tidak berdaya sehingga ia akan
bersungguh-sungguh memohon perlindungan kepada Allah Swt., Dzat yang
mungkin telah ia lalaikan selama ini. Kepasrahan ini pula yang
menuntunnya untuk bertobat.
5. Selalu mengingat nikmat Allah. Sakit membuat orang tahu
manfaat sehat. Tidak jarang orang merasakan nikmat justru ketika sakit.
Begitu banyak nikmat Allah yang selama ini lalai untuk ia syukuri. Bagi
orang yang banyak bersyukur dalam sakit, ia akan memperoleh nikmat.
6. Pembersihan hati dari penyakit. Pendapat Ibnu Qayyim,
“Kalau manusia itu tidak pernah mendapat cobaan dengan sakit dan pedih,
maka ia akan menjadi manusia ujub dan takabur. Hatinya menjadi kasar dan
jiwanya beku. Karenanya, musibah dalam bentuk apapun adalah rahmat
Allah yang disiramkan kepadanya. Akan membersihkan karatan jiwanya dan
menyucikan ibadahnya. Itulah obat dan penawar kehidupan yang diberikan
Allah untuk setiap orang beriman. Ketika ia menjadi bersih dan suci
karena penyakitnya, maka martabatnya diangkat dan jiwanya dimuliakan.
Pahalanya pun berlimpah-limpah apabila penyakit yang menimpa dirinya
diterimanya dengan sabar dan ridha.”
Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari hadits di atas dan bisa menjadi seorang muslim yang baik.
^_^.
"Tetaplah bersinar apapun yang terjadi, karena banyak sekali orang yang bahagia karena sinarmu...!!"
Jumat, 04 Mei 2012
Tolak Ukur Kesuksesan Pendidikan..??
Perasaan gelisah melanda
seluruh orang tua murid. Mereka khawatir kalau nanti anaknya tidak mampu
menjawab soal-soal UN. Bukan hanya orang tua, Sekolah pun ada yang
merasa resah menghadapi UN. Apakah para siswa lulus atau tidak? Jika
mereka lulus merupakan berita gembira, tetapi jika tidak lulus, berita
menyedihkan untuk ukuran keberhasilan pendidikan sekolah bersangkutan.
Bagi sekolah, saat ini tingkat kualitas pendidikan cendrung dikaitkan dengan kelulusan siswa, yang sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah dalam mendidik anak. Semua itu akan mempengaruhi pencitraan sekolah di mata masyarakat. Sekolah akan dinilai buruk oleh masyarakat bila banyak siswanya yang gagal UN. Namun tentunya orang tua yang cerdas akan mempertanyakan efektifitas pendidikan sekolah, apakah sudah menjalankan proses belajar mengajar dengan baik? Selain itu, bagaimana penerapan kurikulumnya? Bagaimana guru-gurunya mengajar? dsb.
Kesibukkan pun terjadi dalam menghadapi UN itu, dengan target semua siswa lulus UN. “Banyak jalan menuju UN”, itu yang dilakukan oleh sekolah. Beberapa cara dilakukan, diantaranya dengan melakukan try out yaitu para siswa diminta untuk mengisi soal-soal prediksi UN. Biasanya, penyelenggaraannya atas kerjasama dengan lembaga Bimbingan Belajar tertentu. Cara lain melalui les intensif yaitu dengan menambah jam pelajaran. Banyak siswa yang rutin pulang sore karena mengikuti les. Mungkin ada juga melalui cara kotor dengan melakukan kecurangan-kecurangan. Kecurangan dilakukan secara sistematis dan mendapat dukungan dari kepala sekolah dan guru. Mereka memberikan kunci jawaban UN kepada siswa lewat SMS atau selembar kertas.
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang bertumpu pada hati dan berhubungan dengan jiwa sadar. Yang dimaksud dengan hati ialah rasa yang kira-kira bertempat di dalam dada. Hati pada dasarnya menghasilkan pengetahuan supralogis; iman termasuk di sini.
Dalam kehidupan nyata, orang ber-IQ tinggi cenderung mampu mencari peluang- peluang hidup. Tetapi ada juga orang yang sukses padahal ia ber-IQ biasa-biasa saja. Ada juga orang ber-IQ melakukan tindakan-tindakan bodoh bahkan lebih hina dari hewan.
Kenapa ada orang pintar bertindak tidak berperikemanusian? Karena mereka kurang atau tidak memiliki kecerdasan spiritual. Mereka punya hati tetapi hatinya “sakit” atau “mati”. Allah swt. berfirman:
Sekolah sudah saatnya memperhatikan kecerdasan spiritual (SQ). SQ akan menjawab kesulitan-kesulitan hidup yang tidak terselesaikan dengan IQ. Baik SQ maupun IQ, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dibutuhkan kerjasama antara IQ dan SQ agar terjadi keseimbangan.
Orang yang hanya mengandalkan IQ, akan cenderung menjadi sekuler. Begitu juga orang yang cenderung kepada SQ saja, cenderung menjadi sufi.
Ada beberapa indikator keberhasilan sekolah yang berkaitan dengan kecerdasan spritual (SQ), diantaranya:
1. Siswa berbakti pada orang tua
Allah swt. berfirman, "dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua". Ayat itu menunjukan bahwa hukumnya wajib berbuat baik kepada orang tua itu wajib. Ibu yang mengandung selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan. Merawat, menyusui, menggatikan popok bayi tanpa merasa jijik. Sungguh besar jasa orang tua kepada anak. Maka sudah menjadi kewajiban apabila anak berbakti kepada ayah dan ibu.
Di sekolah, siswa diajarkan nilai-nilai adab terhadap orang tua. Bagaimana seharusnya mereka bersikap, berbuat baik terhadap ayah dan ibunya. Indikator lainnya adalah pertama, anak bersikap, berbicara, dan berperilaku sopan kepada kedua orang tua. Kedua, anak berusaha mentaati nasehat orang tua. Ketiga, orang tua mengakui bakti baik anaknya. Apakah berbakti kepada orang tua sudah menjadi target kelulusan? Kalau belum, maka sekolah belum bisa dikatakan berhasil mendidik siswanya.
2. Siswa sholat dengan kesadaran
Sholat menempati urutan yang penting dalam Islam, ia merupakan tiang agama. Jika Islam diibaratkan sebuah bangunan, maka bangunan akan kokoh bila ditopang oleh tiang-tiang yang kuat. Bagi mereka yang melalaikan sholat bahkan meninggalkannya sesungguhnya mereka telah atau sedang merobohkan Islam.
Musuh-musuh Islam sudah mengetahui kekuatan sholat. Mereka cenderung berusaha untuk melalaikan umat Islam dari sholat, diantaranya membuat hiburan yang menarik di berbagai media baik yang berbentuk audio, visual, atau audio visual.
Perlu diketahui, bahwa amalan yang pertama kali akan dihisab adalah sholat. Ada hubungan erat antara sholat dengan amal. Sholat dapat berfungsi mencegah perbuatan mungkar, apabila rukun sholat memenuhi hal-hal berikut: Pertama, rukun sholat harus sesuai dengan sunnah. Kedua, ruh sholat harus terfokus dalam kekhusuan. Ketiga, atsar sholat dapat menjaga pelakunya dari perbuatan-perbuatan mungkar. Jika ketiga unsur ini terpenuhi, maka dapat dikatakan sholat tersebut adalah sholat yang sukses.
Sholat harus diperkenalkan kepada anak mulai sejak kecil. Sehingga anak sudah terbiasa dengan sholat. Masa kecil akan lebih mudah membentuk karakter anak dibandingkan masa dewasa. Bila sholat sudah menjadi kebiasaan anak diharapkan akan menumbuhkan kesadarannya akan sholat.
Lantas, apa saja indikator bahwa anak itu mengerjakan sholat dengan penuh kesadaran? Pertama, bila mendengar adzan anak bersegera untuk sholat. Kedua, bila belum melakukan sholat anak merasa berhutang. Ketiga, bacaan dan gerakan sholatnya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Keempat, semua bacaan sholat mulai dari takbir sampai salam anak memahaminya.
Sekarang, adakah sekolah SD yang menargetkan bila siswanya lulus, ia akan sholat dengan penuh kesadaran tanpa harus disuruh oleh orang tua? Jika tidak ada, maka sekolah itu dinilai kurang sukses (untuk tidak menyebut gagal) dalam mendidik siswanya.
3. Siswa tartil baca Alqur’an
Al-Qur’an merupakan kalรขmullah yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. dan membacanya merupakan ibadah. Dalam membaca Alqur’an terdapat rambu-rambu yang mesti diperhatikan, agar bacaannya tidak salah. Maka ilmu tajwid merupakan alat untuk dapat mengarahkan bacaan Al-Qur’an itu benar.
Di sekolah, siswa diajarkan membaca Al-Qur’an secara tartil dengan menggunakan metode tertentu. Sudah banyak metode-metode yang bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an secara tartil. Indikatornya adalah anak senang membaca Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan itu semua, target kelulusan bukan dinilai dari sisi kognitifnya saja, melainkan dilihat sisi afektifnya pula, yaitu akhlaq (SQ). Jika sisi akalnya saja yang dinilai, maka itu merupakan bentuk reduksi pendidikan. Hal inilah yang terjadi sekarang di negeri ini. Akhlak kurang mendapat perhatian sebagai target lulus. Misalnya, ada anak yang dipenjara karena ia berbuat kriminal, lalu ia diizinkan mengikuti UN dan ternyata lulus. Ada anak yang bermasalah, kemudian ia masuk paket A/B/C dan ia lulus. Sementara ada anak yang akhlaknya baik, tapi nilainya tidak mencapai standar tetap tidak lulus. Sungguh ironis? Akhlak (SQ) kurang diperhatikan. Maka wajar, suatu negeri bisa menjadi sekuler apabila dibangun oleh SDM-SDM yang cenderung kepada sisi kognitif saja dan cenderung mengabaikan sisi afektif.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang menargetkan kelulusan siswanya memiliki kemampuan di bidang IQ dan SQ. Karena IQ dan SQ seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan mendapatkan SQ, diharapkan kelak anak tidak tumbuh berkembang menjadi peribadi yang cenderung sekuler karena hampa spiritual. Dengan demikian, maraknya sekolah Dasar dan Menengah Islam hari ini, diharapkan dapat memutus generasi sekuler yang sudah mewabah.
^_^.
Bagi sekolah, saat ini tingkat kualitas pendidikan cendrung dikaitkan dengan kelulusan siswa, yang sering kali menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah dalam mendidik anak. Semua itu akan mempengaruhi pencitraan sekolah di mata masyarakat. Sekolah akan dinilai buruk oleh masyarakat bila banyak siswanya yang gagal UN. Namun tentunya orang tua yang cerdas akan mempertanyakan efektifitas pendidikan sekolah, apakah sudah menjalankan proses belajar mengajar dengan baik? Selain itu, bagaimana penerapan kurikulumnya? Bagaimana guru-gurunya mengajar? dsb.
Kesibukkan pun terjadi dalam menghadapi UN itu, dengan target semua siswa lulus UN. “Banyak jalan menuju UN”, itu yang dilakukan oleh sekolah. Beberapa cara dilakukan, diantaranya dengan melakukan try out yaitu para siswa diminta untuk mengisi soal-soal prediksi UN. Biasanya, penyelenggaraannya atas kerjasama dengan lembaga Bimbingan Belajar tertentu. Cara lain melalui les intensif yaitu dengan menambah jam pelajaran. Banyak siswa yang rutin pulang sore karena mengikuti les. Mungkin ada juga melalui cara kotor dengan melakukan kecurangan-kecurangan. Kecurangan dilakukan secara sistematis dan mendapat dukungan dari kepala sekolah dan guru. Mereka memberikan kunci jawaban UN kepada siswa lewat SMS atau selembar kertas.
UN itu memang penting. Tetapi apakah hanya
UN yang dijadikan tolok ukur kecerdasan manusia? Sekolah dipandang
berhasil mendidik siswa apabila ia mampu memperoleh nilai minimal
kelulusan yang dijadikan standar dalam UN. Padahal di samping kecerdasan
intelektual (IQ), manusia juga membutuhkan kecerdasan spiritual (SQ).
Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang bertumpu pada hati dan berhubungan dengan jiwa sadar. Yang dimaksud dengan hati ialah rasa yang kira-kira bertempat di dalam dada. Hati pada dasarnya menghasilkan pengetahuan supralogis; iman termasuk di sini.
Dalam kehidupan nyata, orang ber-IQ tinggi cenderung mampu mencari peluang- peluang hidup. Tetapi ada juga orang yang sukses padahal ia ber-IQ biasa-biasa saja. Ada juga orang ber-IQ melakukan tindakan-tindakan bodoh bahkan lebih hina dari hewan.
Kenapa ada orang pintar bertindak tidak berperikemanusian? Karena mereka kurang atau tidak memiliki kecerdasan spiritual. Mereka punya hati tetapi hatinya “sakit” atau “mati”. Allah swt. berfirman:
“Allah telah menutup hati mereka, pendengaran mereka, penglihatan mereka, dan bagi mereka siksa yang besar “ (Al-Baqarah/2: 7).
Hati yang telah tertutup oleh noda-noda hitam akan menghalangi pantulan cahaya kebenaran. Orang yang hatinya tertutup akan sulit menerima kebenaran. Apa yang dilakukannya sekalipun dipandang salah tetap saja akan dinilai benar.Sekolah sudah saatnya memperhatikan kecerdasan spiritual (SQ). SQ akan menjawab kesulitan-kesulitan hidup yang tidak terselesaikan dengan IQ. Baik SQ maupun IQ, keduanya mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dibutuhkan kerjasama antara IQ dan SQ agar terjadi keseimbangan.
Orang yang hanya mengandalkan IQ, akan cenderung menjadi sekuler. Begitu juga orang yang cenderung kepada SQ saja, cenderung menjadi sufi.
Ada beberapa indikator keberhasilan sekolah yang berkaitan dengan kecerdasan spritual (SQ), diantaranya:
1. Siswa berbakti pada orang tua
Allah swt. berfirman, "dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua". Ayat itu menunjukan bahwa hukumnya wajib berbuat baik kepada orang tua itu wajib. Ibu yang mengandung selama sembilan bulan, mempertaruhkan nyawa ketika melahirkan. Merawat, menyusui, menggatikan popok bayi tanpa merasa jijik. Sungguh besar jasa orang tua kepada anak. Maka sudah menjadi kewajiban apabila anak berbakti kepada ayah dan ibu.
Di sekolah, siswa diajarkan nilai-nilai adab terhadap orang tua. Bagaimana seharusnya mereka bersikap, berbuat baik terhadap ayah dan ibunya. Indikator lainnya adalah pertama, anak bersikap, berbicara, dan berperilaku sopan kepada kedua orang tua. Kedua, anak berusaha mentaati nasehat orang tua. Ketiga, orang tua mengakui bakti baik anaknya. Apakah berbakti kepada orang tua sudah menjadi target kelulusan? Kalau belum, maka sekolah belum bisa dikatakan berhasil mendidik siswanya.
2. Siswa sholat dengan kesadaran
Sholat menempati urutan yang penting dalam Islam, ia merupakan tiang agama. Jika Islam diibaratkan sebuah bangunan, maka bangunan akan kokoh bila ditopang oleh tiang-tiang yang kuat. Bagi mereka yang melalaikan sholat bahkan meninggalkannya sesungguhnya mereka telah atau sedang merobohkan Islam.
Musuh-musuh Islam sudah mengetahui kekuatan sholat. Mereka cenderung berusaha untuk melalaikan umat Islam dari sholat, diantaranya membuat hiburan yang menarik di berbagai media baik yang berbentuk audio, visual, atau audio visual.
Perlu diketahui, bahwa amalan yang pertama kali akan dihisab adalah sholat. Ada hubungan erat antara sholat dengan amal. Sholat dapat berfungsi mencegah perbuatan mungkar, apabila rukun sholat memenuhi hal-hal berikut: Pertama, rukun sholat harus sesuai dengan sunnah. Kedua, ruh sholat harus terfokus dalam kekhusuan. Ketiga, atsar sholat dapat menjaga pelakunya dari perbuatan-perbuatan mungkar. Jika ketiga unsur ini terpenuhi, maka dapat dikatakan sholat tersebut adalah sholat yang sukses.
Sholat harus diperkenalkan kepada anak mulai sejak kecil. Sehingga anak sudah terbiasa dengan sholat. Masa kecil akan lebih mudah membentuk karakter anak dibandingkan masa dewasa. Bila sholat sudah menjadi kebiasaan anak diharapkan akan menumbuhkan kesadarannya akan sholat.
Lantas, apa saja indikator bahwa anak itu mengerjakan sholat dengan penuh kesadaran? Pertama, bila mendengar adzan anak bersegera untuk sholat. Kedua, bila belum melakukan sholat anak merasa berhutang. Ketiga, bacaan dan gerakan sholatnya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Keempat, semua bacaan sholat mulai dari takbir sampai salam anak memahaminya.
Sekarang, adakah sekolah SD yang menargetkan bila siswanya lulus, ia akan sholat dengan penuh kesadaran tanpa harus disuruh oleh orang tua? Jika tidak ada, maka sekolah itu dinilai kurang sukses (untuk tidak menyebut gagal) dalam mendidik siswanya.
3. Siswa tartil baca Alqur’an
Al-Qur’an merupakan kalรขmullah yang diwahyukan kepada Rasulullah Saw. dan membacanya merupakan ibadah. Dalam membaca Alqur’an terdapat rambu-rambu yang mesti diperhatikan, agar bacaannya tidak salah. Maka ilmu tajwid merupakan alat untuk dapat mengarahkan bacaan Al-Qur’an itu benar.
Di sekolah, siswa diajarkan membaca Al-Qur’an secara tartil dengan menggunakan metode tertentu. Sudah banyak metode-metode yang bisa digunakan untuk membaca Al-Qur’an secara tartil. Indikatornya adalah anak senang membaca Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan itu semua, target kelulusan bukan dinilai dari sisi kognitifnya saja, melainkan dilihat sisi afektifnya pula, yaitu akhlaq (SQ). Jika sisi akalnya saja yang dinilai, maka itu merupakan bentuk reduksi pendidikan. Hal inilah yang terjadi sekarang di negeri ini. Akhlak kurang mendapat perhatian sebagai target lulus. Misalnya, ada anak yang dipenjara karena ia berbuat kriminal, lalu ia diizinkan mengikuti UN dan ternyata lulus. Ada anak yang bermasalah, kemudian ia masuk paket A/B/C dan ia lulus. Sementara ada anak yang akhlaknya baik, tapi nilainya tidak mencapai standar tetap tidak lulus. Sungguh ironis? Akhlak (SQ) kurang diperhatikan. Maka wajar, suatu negeri bisa menjadi sekuler apabila dibangun oleh SDM-SDM yang cenderung kepada sisi kognitif saja dan cenderung mengabaikan sisi afektif.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang menargetkan kelulusan siswanya memiliki kemampuan di bidang IQ dan SQ. Karena IQ dan SQ seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Dengan mendapatkan SQ, diharapkan kelak anak tidak tumbuh berkembang menjadi peribadi yang cenderung sekuler karena hampa spiritual. Dengan demikian, maraknya sekolah Dasar dan Menengah Islam hari ini, diharapkan dapat memutus generasi sekuler yang sudah mewabah.
^_^.
Telat Ujian
Ada 4 orang mahasiswa yang kebetulan telat ikut ujian semester karena bangun kesiangan.
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.
Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”
pesan buat para mahasiswa "jangan pernah membohongi dosen".... hehehe :D
Mereka lantas menyusun strategi untuk kompak kasih alasan yang sama agar dosen mereka berbaik hati memberi ujian susulan.
Mahasiswa A: pak, maaf kami telat ikut ujian semester
mahasiswa B: iya pak. Kami berempat naik angkot yg sama dan ban angkotnya meletus.
Mahasiswa C: iya kami kasihan sama supirnya. Jadinya kami bantu dia pasang ban baru.
mahasiswa D: oleh karena itu kami mohon kebaikan hati bapak untuk kami mengikuti ujian susulan.
Sang dosen berpikir sejenak dan akhirnya memperbolehkan mereka ikut ujian susulan.
Keesokan hari ujian susulan dilaksanakan, tapi keempat mahasiswa diminta mengerjakan ujian di 4 ruangan yg berbeda. “Ah, mungkin biar tidak menyontek,” pikir para mahasiswa. Ternyata ujiannya cuma ada 2 soal. Dengan ketentuan mereka baru diperbolehkan melihat dan mengerjakan soal kedua setelah selesai mengerjakan soal pertama.
Soal pertama sangat mudah dengan bobot nilai 10. Keempat mahasiswa mengerjakan dengan senyum senyum.
Giliran membaca soal kedua dengan bobot nilai 90. Keringat dingin pun mulai bercucuran.
Di soal kedua tertulis:
“Kemarin, ban angkot sebelah mana yang meletus?”
pesan buat para mahasiswa "jangan pernah membohongi dosen".... hehehe :D
Kamis, 03 Mei 2012
Surat Cinta yang Tak Terkirim
Sebuah surat cinta dari seorang Cowok bisa dikatakan Ikhwan namun tidak sempat diberikan kepada si Cewek atau Akhwat... ^_^.
ditulis beberapa tahun yang lalu...
Assalamu’alaikum
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku
Tak terasa Empat tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu.
Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu.
Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku?
Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci.
Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangka ku.
Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangka ku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih.
Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku.
Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku,
Andai aku boleh meminta kepada Rabbku, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu.
Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini.
Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat.
Sebagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangka ku tentangmu..
Tentang dia karena sebagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangkamu terhadapku.
Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu.
Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali.
Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu.
Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin berpacaran denganmu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku,
jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku.
Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.
Aku yang tidak mengerti …
Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?!
Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku,
kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu…
aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita.
Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini.
Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
mintalah kepada Rabb-mu, Rabb-ku, dan Rabb semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita.
Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.
Untukmu, yang telah melumpuhkan hatiku..
ditulis beberapa tahun yang lalu...
Assalamu’alaikum
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku
Tak terasa Empat tahun aku memendam rasa itu, rasa yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan aku atau dirimu.
Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu.
Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.
Takukah engkau wahai yang mampu melumpuhkan hatiku?
Entah mengapa aku dengan mudah berkata “cinta” kepada mereka yang tak kucintai namun kepadamu, lisan ini seolah terkunci.
Dan aku merasa beruntung untuk tidak pernah berkata bahwa aku mencintaimu, walau aku teramat sakit saat mengetahui bahwa aku bukanlah mereka yang engkau cintai walaupun itu hanya sebagian dari prasangka ku.
Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.
Sakit hatiku memang saat prasangka ku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih.
Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku.
Ketentramanmu adalah buah cinta yang amat teramat mendekap hatiku, dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah.
Wahai engkau yang melumpuhkan hatiku,
Andai aku boleh meminta kepada Rabbku, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada tatapan pertama itu yang membuat hati ini terus mengingatmu.
Jarang aku memandang wanita, namun satu pandangan saja mampu meluluhkan bahkan melumpuhkan hati ini.
Andai aku buta, tentu itu lebih baik daripada harus kembali lumpuh seperti ini.
Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat.
Sebagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangka ku tentangmu..
Tentang dia karena sebagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa prasangkamu terhadapku.
Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
mungkin aku bukanlah pejantan tangguh yang siap untuk segera menikah denganmu.
Masih banyak sisi lain hidup ini yang harus ku kelola dan kutata kembali.
Juga kamu wahai yang telah melumpuhkan hatiku, kamu yang dengan halus menolak diriku menurut prasangkaku dengan alasan belum saatnya memikirkan itu.
Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, juga aku tidak ingin berpacaran denganmu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Mungkin saat ini hatiku milikmu, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada bidadari-ku nanti.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Tolong bantu aku untuk meraih bidadari-ku bila dia bukanlah dirimu.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
Tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku,
jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah meminangmu bukan sebagai istriku namun sebagai kekasihku.
Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.
Aku yang tidak mengerti …
Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau menungguku hingga aku siap dengan tegak meminangmu dan kau pun siap dengan pinanganku?!
Namun wahai yang telah melumpuhkan hatiku,
kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu…
aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka yang lain.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita.
Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini.
Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.
Wahai engkau yang telah melumpuhkan hatiku,
mintalah kepada Rabb-mu, Rabb-ku, dan Rabb semua manusia akhir yang terbaik terhadap kisah kita.
Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.
Untukmu, yang telah melumpuhkan hatiku..
Rabu, 02 Mei 2012
Jika Ini Bukan Cinta
Jika ini bukan cinta
Jantungku tak kan berdegup begitu dahsyatnya tatkala semburat cahaya menyentuh retina tuk tampakkan bayangan mata.
Meluruhkan seluruh napas tuk berkata di atas pesona debaran sesakkan dada.
Jika ini bukan cinta
Hatiku tak kan meringis membanjir deras tatkala rasa teringkar setelah lama bersemayam.
Memendam dalam bisu dan kamuflase bahagia yang terurai.
Menggoyahkan ego dan hasrat dalam prinsip yang tertata.
Jika ini bukan cinta
Akalku tak kan berargumen tuk halalkan segala fitrah mengancam jiwa tatkala memikirnya tuk kabulkan imajinasi merangkai asa.
Membeku dalam kelu lingkaran iman di atasnya.
Jika ini bukan cinta
Wahai Dzat yang jiwaku berada pada genggamanNya
Dekaplah aku dalam sorot mata lindunganMu, agar ku bernaung dalam debaran damaiMu menenangkanku
Rangkullah aku dengan kehangatan cintaMu, agar ku tak terjerat rasa semu yang membuatMu melepasku
Peluklah aku dalam definisi imajinasi mengharapMu, agar ku tak terlena puing-puing khayal nyata asaku
Jika ini bukan cinta
Wahai Dzat yang hatiku berada dalam tatapanNya
Buanglah rasa yang mengitari hatiku.
Jangan biarkannya membadai, meluluhlantakan seluruh gedung berfondasi
baja yang selama ini kubangun, di tengah tandusnya gurun pasir dan
besarnya gelombang samudera.
Enyahkanlah tentangnya dalam pikirku.
Jangan biarkannya berkobar, menyuluti seluruh tatanan sejuknya hawa
bumi yang selama ini kucipta atas izinMu, dalam rengkuhan aliran sungai
dengan riaknya dan danau dengan diamnya.
Namun jika ini cinta
Cukuplah Kau yang mengetahuinya, Ya Rabb...
Belum Ada Judul
Kutatap bayangmu dalam lamunanku,
Rasanya usai ku berlalu,
Mengubur rasa yang tersisa, Adalah ketidakberdayaan,
Memeluk rindu adalah pilu,
Mengais kasih adalah sunyi,
Pada tebing tinggi,
Jiwa di keabadian,
Usai sudah langkahku,
Pada kekokohan diri,
Pada keyakinan hati yang tercabik,
Pada kepercayaan yang tersia,
Biar waktu mengalirkan resahku,
Membentuk anak sungai diharibaanku,
Tempatku bermuara di kefanaan,
Tempatku bernaung di kehampaan,
Aku tak kan susuri hatiku,
Cukuplah ketiadaberdayaan ini,
Menggilasku dalam dentuman waktu,
Dalam bisingnya keramaian,
Aku kan beranjak pergi,
Dari hati yang tiada di kekuatan,
Aku kan berlalu,
Dihati yang bukan millikku,
Mungkin aku adalah ketiadaan,
Diantara egoku yang kosong,
Diantara keyakinan yang rapuh,
Yang tak memiliki apapun lagi,
Percikan senyummu diatas getirku,
Saat kau tak tahu siapa diriku,
Saat kau samar mengenalku,
Saat kau bimbang dengan cintamu,
Namun hati ini kan bersemi,
Menyimpan dirimu dalam cintaku,
Yang tiada terpahami,
Dan tiada pula kumengerti,
Bersatulah dirimu dalam keyakinanmu,
Tepikanlah diriku dijalanmu,
Jangan kau pandang getirnya hatiku,
Menyembunyikan semua rasaku,
Bahagiamu adalah kasih yang abadi,
Ketulusanmu adalah cinta yang suci,
Kasihmu kan selalu bersemi dihati,
Mengiringi di setiap waktuku yang tersisa.
Untukmu...
Selasa, 01 Mei 2012
Untitle..
Saat aku mula mengenali dirinya
Dan akhirnya aku berserah hanya pada-Nya
Sang penentu takdir Yang menentukan segalanya
dan maha berkehendak
Cintaku pada manusia terbatas
tetapi tidak cintaku pada-Mu Yaa Allah...
Diri ini seakan bahagia
Tiada setitik mutiara yang jatuh ke riba
Karena hadirnya membawa cahaya
Hadirnya dalam hidupku
Mampu mengubat hati yang pilu
Mampu menghapus kenangan sendu suatu ketika dahulu
Yang membiarkan aku terus hanyut dalam rindu palsu
Cinta bertepuk sebelah tangan
Itulah yang sesuai dijadikan ungkapan
Karena berperangnya antara hati dan iman
Menyuruhku melupakan segala kenangan
Niat tidak boleh menghalalkan cara
Apa yang haram tetap haram di sisiNya
Aku ingin mencintai dan dicintai dengan ridho dariNya
Karena di situlah hadir segunung rahmat dariNya
Aku bukanlah hamba yang baik dan sempurna
Aku tidak sempurna tanpa cintanya
Namun tanpa cinta Allah hidup lebih tidak sempurna
Haruskah aku melupakan dia
Ya Allah
Aku ingin dia mencintaiMu dan agamaMu
Aku ingin melihat dia bahagia dengan cinta dariMu
Karena aku juga bahagia dengan cintaMu
Semoga aku dan dia mendapat rahmat dan syurgaMu
Ya Muhaimin
Aku berharap do'aku diperkenankan
Agar aku dan dia tidak menyusuri jalan kesesatan
Agar kami bahagia meneruskan kehidupan
Ya Illahi
Andainya dia bukan tertulis untukku
Ridhokan aku menerima segala dariMu
Jauhkan aku dari segala rasa kecewa dan pilu
Karuniakan kepadanya seorang yg layak untuk dirinya dan juga aku
Ya Rabbana
Sampaikan pesanku kepadanya
Kau berikanlah cahaya hidayahMu kepada aku dan dia
Sehingga aku tahu dia adalah jodohku selamanya
Aku
hanya ingin kamu mengerti
bahwa aku tidak akan pernah berhenti
dari menemani dan menyayangimu
selagi diizinkan Allah
Tuhan
tolong jaga aku dan dia
karena aku hanya ingin melihatnya tersenyum bahagia
bahwa aku tidak akan pernah berhenti
dari menemani dan menyayangimu
selagi diizinkan Allah
Tuhan
tolong jaga aku dan dia
karena aku hanya ingin melihatnya tersenyum bahagia
Aku hanya bisa berharap
Aku hanya bisa menunggu
Aku hanya bisa berdoa
Aku hanya bisa berusaha
Dan akhirnya aku berserah hanya pada-Nya
Sang penentu takdir Yang menentukan segalanya
dan maha berkehendak
Cintaku pada manusia terbatas
tetapi tidak cintaku pada-Mu Yaa Allah...
Langganan:
Postingan (Atom)