"Tetaplah bersinar apapun yang terjadi, karena banyak sekali orang yang bahagia karena sinarmu...!!"

Minggu, 23 Juni 2013

Lukisan Pelangi Sang Kapten

Dunia Bahagia Akhirat Syurga, sebuah kata motivasi yang singkat namun sangat bermakna bagiku, kata-kata yang terangkai indah yang ingin selalu ku tanamkan di dalam jiwaku. Jiwa yang penuh semangat dan InsyaAllah akan terus bersemangat bersama ayunan tangan menggoreskan sebuah lukisan pelangi. Pelangi kehidupan penuh makna, Pelangi kehidupan yang penuh cerita, Pelangi kehidupan yang mebawa kepada kebahagiaan. Suka, duka, sedih, galau, bahagia senang, ceria, kebersamaan, kesendirian, dan semangat terangkum bak pelangi, Lukisan Pelangi.
24 April 2011 kurang lebih pukul 05.15 WIB handphone (HP) ku berbunyi, aku yang ketika itu baru sampai di kos setelah menunaikan sholat subuh di masjid dekat kos segera meraih HP dan mengangkat telpon yang ternyata dari kak Eko Hepronis, Ketua Umum WAKI FISIP Unsri saat itu, beliau mengatakan agar lebih pagi berangkat menuju lokasi Acara dan mampir terlebih dahulu ke kosan beliau.
WAKI? Acara? ya, WAKI atau kepanjangannya Wahana Kerohanian Islam adalah nama dari Lembaga Dakwah tingkat Fakultas yang berada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sriwijaya. hari itu ada acara penting bagi WAKI pun acara yang merupakan sebuah sejarah bagi ku. hari itu Syuro’ Akbar (SA) WAKI atau nama lain dari Musyawarah Besar untuk memilih Ketua Umum WAKI berikutnya.
Singkat cerita, aku dan kak Eko sudah berada di lokasi acara yaitu Aula Panti Sosial Dharmapala Indralaya, Ogan Ilir. Disana baru kami berdua yang sampai. Lalu kami menyiapkan hal-hal yang perlu disiapkan, salah satunya memasang spanduk (SA).
Beberapa jam berselang acara pun dimulai. Acara yang dikemas bak Sidang Paripurna DPR yang berjalan begitu alot, menimbulkan perdebatan-perdebatan yang cukup panas namun tetap di akhir setiap perdebatan diberi sebuah pemahaman dan pembelajaran dari kakak-kakak senior yang hadir dalam acara tersebut. Hingga akhirnya tibalah acara puncak yaitu pemilihan Ketua Umum WAKI periode 2011-2012. Dan tak pernah aku sangka, apalagi aku duga, ketika musyawarah para calon yang ditengahi oleh Ketua Umum dan Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) menyebutkan namaku sebagai Ketua Umum.
Aku sungguh tak menyangka, karna aku merasa siapa aku? Seberapa besar keimananku? Seberapa tinggi pemahamanku tentang Agama? Seberapa rajin aku sholat? Seberapa banyak hafalan Ayat Al-Qur’an? Sungguh memalukan jika ku sebutkan, sungguh begitu miris jika ku katakan. Namun, sepotong ayat yang ku ingat, yang pernah dikatakan oleh Guru Agama Islamku ketika SMP adalah “Laa yukallifullohu nafsan illa wusaha...” “Allah tidak akan menguji manusia diluar batas kemampuannya..”
Tiga hari aku menjadi mash’ul aku diberi sebuah Tim, Tim yang akan membantuku untuk merumuskan kebijakan, pun untuk menggawangi WAKI selama kepengurusanku. Bersama Tim inilah aku merasa tak sendiri dalam menjalankan amanah ini, bersama tim ini juga aku berjalan melukiskan pelangi kehidupan sang mash’ul.
Satu minggu aku bersama rekan-rekan timku berhasil merumuskan Visi, Misi, dan Struktur Pengurusan WAKI. Selama seminggu itupun aku mulai belajar untuk menjadi seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin. Pemimpin yang tak hanya soal memimpin, namun pemimpin yang Ruhiyahnya pun mampu untuk diteladani jundi-jundinya.
Setelah dilantik, mulailah aku melukis pelangi, pelangi kehidupan yang berwarna dan penuh arti serta pembelajaran. Beberapa hari kemudian kami berkunjung ke Dekan FISIP Unsri, disanalah pengalaman pertamaku memimpin rekan-rekan pengurus untuk berhadapan langsung dengan orang Nomor 1 di FISIP Unsri. Gugup, gemetar, keringat dingin, ucapan yang terbata-bata mewarnai pertemuan itu, beruntung Ibu Dekan pun bisa untuk memakluminya, justru membimbing dan memberikan masukan untuk jalannya WAKI kedepan, serta Ibu dekan pun bersedia mendukung seluruh agenda dan acara WAKI kedepan. Pertemuan itupun penuh canda tawa keakraban bak Ibu dan Anak-anaknya.
Ada lagi cerita indah yang tersirat di benak, ketika bersama rekan-rekan WAKI berkunjung Ke Panti Jompo Indralaya. Disana kami bertemu dengan kakek-kakek dan nenek-nenek yang dititipkan disana. Namun, aku sangat merasakan sesuatu yang memilukan ketika ku tahu ternyata ada yang beda antara penghuni panti tersebut, ada yang berada di tempat yang dibilang layak, namun ternyata ada juga yang berada ditempat yang kurang layak. Dan hatiku sangat terenyuh ketika melihat kakek-kakek dan nenek-nenek yang berada ditempat yang kurang layak. Aku tak kuasa untuk menahan tangis, namun aku tidak boleh memperlihatkan itu di hadapan rekan-rekan yang lain, aku keluar sejenak dari ruangan tersebut dan mengusap mataku yang sudah berkaca-kaca, setelah itu aku kembali bersama rekan-rekan yang lain untuk menghibur kakek-kakek dan nenek-nenek yang ada disitu yang ternyata sudah sangat lama tidak dibesuk atau dikunjungi oleh keluarga mereka. Meskipun dengan hati yang sedih, tapi aku berusaha untuk terus bercanda tawa bersama mereka dan rekan-rekan yang lain.
Cerita kunjungan/bakti sosial tak habis disitu, ada lagi cerita bakti sosial ke desa Tanjung Medang Kecamatan Gelumbang. Sebelum berangkat, dengan penuh semangat rekan-rekan WAKI mempersiapkan barang-barang yang sudah terkumpul yang akan disumbangkan ke masyarakat Desa Tanjung Medang. Meski harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dengan jalan yang mulus kemudian agak mulus, dan akhirnya jalan bebatuan, namun dengan penuh semangat kami tiba disana dan langsung berinteraksi bersama masyarakat Desa sekaligus membagikan sembako maupun pakaian layak pakai yang sudah terkumpul dari hasil sumbangan teman-teman WAKI maupun FISIP. Pengalama dari perjalanan, sambutan masyarakat yang begitu antusias dan hangat, hingga kesempatan untuk berbagi antar manusia mampu menambah coretan lukisan pelangi hidupku. 
Lukisan pelangi tak hanya tercipta dari kunjungan dan bakti sosial saja, namun juga pada agenda-agenda acara WAKI lainnya. Lukisan pelangi pun tercipta ketika berbagi kekompakan, semangat, dan usaha untuk mengoptimalkan seluruh acara baik itu PHBI maupun acara yang sifatnya event-event lainnya.
Menjadi Kapten (Mash’ul) WAKI mengantarkanku menuju sebuah kefahaman tentang arti sebuah tanggung jawab, arti sebuah amanah dakwah yang tentunya tak akan pernah ku dapatkan jika tidak berkecimpung langsung ke jalan ini. Dari WAKI ini juga aku mulai mampu menata kehidupanku yang dulu seolah tanpa arah dan hanya berpatokan kepada perkataan-perkataan orang tua saja, tanpa memahami terlebih dahulu semua yang mereka katakan dan ternyata memang benar sesungguhnya yang mereka katakan dan harapkan selama ini. Aku pun mulai punya targetan-targetan sendiri yang ku tuliskan semuanya dalam selembar “kertas impian” yang beberapa diantaranya sudah mulai ku centang atau coreti, salah satunya adalah harapan dan cita-citaku untuk keliling Indonesia diantaranya Yogyakarta, sebuah kota di Indonesia yang menjadi ikon Kota Pendidikan Indonesia. Beberapa bulan kemudian aku mendapat kesempatan untuk kesana dengan tujuan Sarasehan Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Kampus yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) selama 3 hari. Hal yang tentunya sangat luar biasa ku rasakan, karena baru saja beberapa bulan yang lalu ku impikan, namun aku sudah mampu untuk mewujudkannya, dan tentunya atas Izin ALLAH SWT. Selama beberapa hari aku merasakan atmosfer kehidupan di Yogya, membuatku menambah impianku dan targetku di “Kertas impian”, yaitu melanjutkan Study di sana.
Hampir satu tahun aku melukis pelangi sebagai Kapten WAKI, tentu tidak semuanya memberi keindahan, tapi juga bercak-bercak tinta hitam pun terkadang memercik dan mengotori warna-warna indah sang pelangi, namun tentunya dalam hidup tak hanya cukup dengan warna-warna cerah, namun terkadang warna gelap pun perlu untuk semakin memperindah goresan indah sang pelangi, karena tentunya tak akan pernah ada terang tanpa adanya gelap.
7 April 2012, hari ini ayunan tanganku terhenti untuk melukis pelangi sang mash’ul, hari ini pukul 17.33 WIB aku dinyatakan syah didemisioner oleh presidium sidang dengan dua kali ketokan palu. Tentunya masih banyak lukisan pelangi-pelangi yang jika ku ceritakan secara rinci, tidak akan cukup terangkum dalam sebuah cerpen. Segala kisah yang tentunya takkan pernah ku lupakan. Kebersamaan, kekompakan, keegoisan, keotoriteran, kemarahan, senyuman, semangat, dan canda tawa ini yang menjadi pelangi di hatiku yang takkan pernah terhapus hanya dengan kegelapan malam, pelangi yang akan terus memancarkan warnanya di dalam hidupku.
Memang Pelangi Sang Kapten telah terhenti, namun pelangi baru telah menanti untuk di lukis, pelangi yang tentunya harus lebih indah dari yang sebelumnya, pelangi yang tetap harus menyinari WAKI meskipun sudah mantan dan terus mewarnai kehidupan-kehidupan baru yang akan lebih seru dan menantang. Karena ini bukan akhir, tapi kenaikan tingkat.
Terbersit sebuah lagu di benakku, lagu kanak-kanak tempo dulu.
Pelangi-pelangi alangkah indahmu
Merah, kuning, hijau dilangit yang biru
Pelukismu Agung siapa gerangan
Pelangi-pelangi ciptaan Tuhan..
Lagu yang sekilas mungkin tak ada makna yang spesial, namun bila kita resapi tentunya sangat penuh dengan makna. Pelangi yang penuh warna-warni kehidupan. Pelangi yang diciptakan oleh Sang Maha Agung, ALLAH SWT untuk memberikan keindahan setelah mendung dan hujan.
“Robb, izinkan aku untuk terus melukiskan pelangi-pelangi kehidupan dijalan DakwahMU ini hingga akhir nanti, akhir dimana aku kelak menemuiMU..”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar