“…dan
sampaikanlah ayatKu walaupun hanya 1 ayat…”.
Kalimat
ini mungkin sering terdengar bagi kita kaum muslimin, namun bagi yang tergugah
akan panggilan ini tentu dakwah akan menjadi salah satu prioritas dalam
hidupnya. Sebagaimana Allah menuangkan perintahNya dalam kitab suci Alquran
atas seruan ini.
“Dan hendaklah diantara
kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat)
yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (Q.S. Ali Imran : 104)
Dakwah
atau menyeru pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran tentunya disadari oleh
para aktivis dakwah baik itu medannya, halang rintangnya ataupun sarana lainnya
yang kurang mendukung kegiatan mulia ini. Tujuan untuk membumikan dinul Islam
kembali pun harus bertahap dan penuh kesabaran dalam menatanya. Itu semua
sunatullah yang harus dihadapi dengan penuh keteguhan dan komitmenitas yang
tinggi agar keberlangsungan dakwah ini terjamin.
Berbagai
lapisan masyarakat pun harus tersiram oleh dakwah, tak terkecuali lapisan
kampus yang notabene adalah generasi muda sebagai agent of change.
Generasi muda adalah generasi yang penuh semngat, pemikiran brilian dan tenaga
yang tinggi yang akan bernilai lebih bila dikorbankan dalam perjuangan dakwah
ini. Dakwah kampus targetnya adalah orang – orang yang intelektual, penuh
keragaman latar belakang fikrah, penuh kevariatifan motif, dan penuh pemikiran
– pemikiran budaya yang tentunya memiliki problem-problem ataupun
permasalahan-permasalahan yang terjadi di dalamnya.
Kondisi-kondisi
terkini yang terjadi dalam dakwah kampus menurut pandangan saya sendiri adalah
:
1. Dakwah Terkesan Masih Eksklusif
Tercermin
dari para aktivisnya termasuk saya sendiri yang mungkin dapat dikatakan kurang membaur
dengan para mahasiswa ammah. Padahal asalkan status Aktivis dakwah kampus masih
dijunjung tinggi nilai-nilainya, pluralitas yang ada dapat disikapi dengan baik
oleh para aktivis dakwah dengan membaur tanpa melebur bersama mereka.
Sebagaimana Allah perintahkan dalam salah satu surat di Al Qur’an bahwa kita
dilarang untuk menjadikan orang non muslim sebagai sahabat sejati kita. Karena
orang ahli kitab sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah ayat 105, Allah berfirman
yang artinya “Orang – orang yang kafir dari ahli
kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu
kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah telah memberikan rahmatNya
kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemberi karunia yang paling besar.”
Untuk itu
memang dibutuhkan tarbiyah dzatiah yang kuat sebagai tameng ini semua. Berat
memang. Teori itu mudah. Namun yang dirasakan selama ini beberapa aktifis
dakwah kampus hanya akan menerapkan sunah atau menunujukkan keeksitensian diri
pada sesama aktifis. Contoh ringan : Sesama aktifis akan menyampaikan kata Syukron,
‘afwan saat menghadapi aktifis dakwah yang lain. Namun kenapa pada yang ‘ammah
mereka tidak mengatakannya juga? Kalaupun dengan dalih yang mengatakan bahwa
menyampaikan sesuatu pada tempatnya, menurut saya ini hanyalah jawaban
kamuflase belaka, karena ini belum mencerminkan alasan sesungguhnya kenapa
seseorang tersebut berbahasa Arab dalam beberapa kata itu. Kalau alasannya
ingin menerapkan apa yang Imam Al Syahid Hasan Al Banna wasiatkan yaitu dengan
membiasakan berbahasa Arab walaupun sedikit kenapa harus pilih – pilih untuk
membiasakan hal ini. Bukankah katanya ingin syiar, tapi kenapa syiar
pada aktifis? Lalu sebenarnya tujuan syiar lebih kepada siapa? Aktivis
atau ‘ammah?
2. Komitmenitas ADK
Ya, permasalahan
yang saya anggap cukup urgent juga. Cukup banyak permasalahan yang berkaitan
dengan komitmen ini, namun saya akan lebih fokus menanggapi komitmen para
Aktifis dalam mengemban amanahnya. Memang tujuan utama kita adalah menunaikan
atau menjalankan Amanah Orang Tua yaitu akademik alias kuliah. Namun, jangan
sampai hal itu menjadikan alasan kita untuk menunda-nunda suatu kegiatan dalam
rangka syiar dakwah atau sejenisnya. Dan jangan sampai karna ingin cepat-cepat
lulus kita terburu-buru untuk menyelesaikan amanah kita tanpa mempertimbangkan
teman-teman atau jundi-jundi yang ada dalam sebuah wajiha tersebut dan bahkan
terkesan memaksakan.
3.
Krisis Keteladanan
Seseorang
yang menjadi aktifis dakwah kampus seharusnya adalah orang yang benar – benar
dapat memberikan keteladan baik dari sikap, kesantunan, intelektualitas, dan
spiritualitasnya. Bila aktifis dakwah kampus kurang memberikan keseimbangan
dalam hal – hal terkait diatas maka dakwah akan cenderung dipandang sebelah mata
oleh ‘ammah. Sekali lagi, keseimbangan ini tidak harus mengorbankan
komitmennya sebagai Agen Dakwah Kampus. Melebur tanpa terwarnai.
4.
Inisiatif Untuk Aktif
Sebaik-baiknya
aktifis itu adalah yang memiliki Inisiatif untuk bergerak sendiri, bukan karena
ada hal-hal tertentu yang membuatnya untuk aktif, tapi karena niat tulus untuk
mensyiarkan Islam. Namun, yang saya lihat selama ini, hamper semua aktifis itu
harus terlebih dulu ditekan dan diperintah untuk menjalankan baru dia mau untuk
bergerak.
5.
Kreativitas dan Inovatif
Sebuah
kegiatan itu ada masanya masing-masing, mungkin kegiatan ini menjadi primadona
di masa sekarang, namun beberapa tahun kedepan atau bahkan beberapa minggu
kedepan tren atau kegiatan tersebut sudah tidak efektif lagi untuk dijadikan cara
untuk berdakwah. Dan begitulah kondisi dakwah selama ini yang saya lihat masih mengikuti
cara-cara lama yang saya rasa sudah tidak efektif lagi untuk dilaksanakan pada
kondisi sekarang.
Saya mengakui bahwa sepenuhnya saya belum
termasuk orang – orang yang masih diharapakan seperti dalam tulisan ini. Masih
begitu banyak perbaikan – perbaikan diri yang perlu dibertahapi untuk kebaikan
di depan hari. Untuk itu saya mohon maaf yang sebesar – besarnya terutama pada
Allah swt bila pengamatan saya ini hanya sepihak tanpa memperhatikan
pertimbangan – pertimbangan yang lebih lanjut dari pihak – pihak yang saya
kaitkan dalam tulisan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar